MataParlemen.id – Informasi mengenai penemuan jenazah tanpa identitas di Pulau Enggano, Bengkulu, yang disebut-sebut sebagai Surakman, anak buah kapal atau awak KM Arupadhatu 1, kembali memunculkan harapan sekaligus kecemasan keluarga delapan orang yang hilang di perairan Selat Sunda. Basarnas kini menunggu hasil tes DNA.
Kabar yang beredar di media sosial menyebut dugaan identitas jenazah mengarah kepada Surakman setelah dilakukan pencocokan DNA. Namun, Basarnas Banten belum mengonfirmasi informasi tersebut secara resmi.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Banten Rizki Dwiyanto mengatakan pihaknya masih menunggu keterangan resmi mengenai hasil identifikasi.
Keterangan resmi mengenai identitas jenazah tersebut dijadwalkan disampaikan dalam konferensi pers di Polda Banten pada Rabu siang.
Surakman merupakan satu dari delapan orang yang berada di KM Arupadhatu 1 ketika kapal tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, menuju kawasan Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.
Lima orang dalam rombongan merupakan jurnalis, yakni M Bagus Khoerunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Jaidi dari Anadolu, serta Donal yang bekerja sebagai jurnalis lepas.
Tiga lainnya merupakan awak kapal, yaitu Warta sebagai kapten, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto sebagai pemandu.
Rombongan tersebut berangkat untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.
Sebelum hilang kontak, komunikasi dengan rombongan masih sempat berlangsung. Bagus sempat mengirimkan foto bersama rekan-rekannya kepada istrinya, Desi Purnamasari.
Surakman merupakan satu dari delapan orang yang berada di KM Arupadhatu 1 ketika kapal tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, menuju kawasan Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.
Lima orang dalam rombongan merupakan jurnalis, yakni M Bagus Khoerunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Jaidi dari Anadolu, serta Donal yang bekerja sebagai jurnalis lepas.
Tiga lainnya merupakan awak kapal, yaitu Warta sebagai kapten, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto sebagai pemandu.
Rombongan tersebut berangkat untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.
Sebelum hilang kontak, komunikasi dengan rombongan masih sempat berlangsung. Bagus sempat mengirimkan foto bersama rekan-rekannya kepada istrinya, Desi Purnamasari.
Sekitar pukul 14.42 WIB, Bagus juga berkomunikasi dengan jurnalis Antara Biro Lampung yang berada di Pulau Sebesi dan mengabarkan posisi rombongan.
Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 18.13 WIB, Heriyanto masih mengirimkan foto yang menunjukkan dirinya berada di sekitar Gunung Anak Krakatau. Setelah itu, komunikasi dengan rombongan terputus.
Pimpinan Antara Biro Banten kemudian melaporkan hilangnya kontak dengan salah satu wartawannya kepada Basarnas pada Selasa (8/9/2026).
Operasi pencarian terhadap delapan orang tersebut selanjutnya dilakukan dengan mengerahkan unsur laut dan udara.
Tim SAR gabungan menyisir kawasan Gunung Anak Krakatau, Pulau Rakata, Pulau Panjang, Pulau Sebesi, Sebuku, Lagundi, Tanjung Tua, Pulau Panaitan, Ujung Kulon hingga perairan Lampung.
Pencarian tidak hanya berpatokan pada titik komunikasi terakhir. Tim turut memperhitungkan arah arus laut, kecepatan angin, tinggi gelombang, kondisi geografis, serta kemungkinan kapal atau benda hanyut bergeser jauh dari lokasi awal.
Kapal SAR menyisir permukaan laut, sementara helikopter dan drone dikerahkan dari udara. Tim juga mengumpulkan informasi dari nelayan dan kapal lain yang melintas di sekitar wilayah pencarian.
Sejumlah benda sempat ditemukan selama operasi, termasuk jaket pelampung. Namun, temuan-temuan tersebut belum dapat dipastikan berkaitan dengan KM Arupadhatu 1.
Cuaca juga menjadi tantangan selama pencarian. Angin kencang, gelombang tinggi, jarak pandang terbatas, serta aktivitas Gunung Anak Krakatau dan abu vulkanik turut diperhitungkan demi keselamatan petugas.
Memasuki hari ketujuh, keluarga meminta operasi SAR diperpanjang. Pemerintah Provinsi Banten kemudian meneruskan permintaan tersebut kepada tim SAR.
Operasi yang semula berakhir pada hari ketujuh diperpanjang selama tiga hari, dari 15 hingga 17 September 2026.
Pada tahap perpanjangan, puluhan kapal dikerahkan dan pencarian udara dilakukan menggunakan helikopter Dauphin HR 3604. Basarnas Banten juga berkoordinasi dengan kantor SAR Lampung untuk memperluas wilayah pencarian ke perairan Lampung hingga sekitar Pulau Enggano.
Selama 10 hari operasi, luas wilayah pencarian mencapai sekitar 38.880 mil laut persegi atau sekitar 133.300 kilometer persegi. Sebanyak 24 unit sarana dan unsur SAR dari laut, udara, dan darat dilibatkan.
Namun, hingga operasi hari terakhir pada Kamis (17/9/2026), lima jurnalis dan tiga awak KM Arupadhatu 1 belum ditemukan. Operasi SAR kemudian dihentikan setelah melalui evaluasi dan pencarian selama 10 hari.(erc)


