MataParlemen.id- Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) kembali menggerakkan guru-guru di Muara Enim agar mampu mengajarkan literasi dasar kepada setiap anak didiknya.
Penguasaan literasi dasar merupakan prasyarat wajib yang harus dikuasai siswa dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Kemampuan literasi dasar, yaitu membaca dan matematika, harus dikuasai anak Indonesia. Tanpa penguasaan literasi dasar ini, Indonesia Emas 2045 hanya jadi sisi gelap Indonesia,” tegas Presidium Gernas Tastaka, Ahmad Rizali.
Dalam siaran persnya, pernyataan disampaikan Ahmad Rizali di depan ribuan guru dan Wakil Bupati Muara Enim Ir.Hj.Sumarni,MSi, Jumat (27/2/2026) dalam acara Talkshow Guru dan Soft Launching Buku Literasi dan Numerasi Dasar, dalam rangka peringatan HUT PTBA (Persero) Tbk ke-45 di Tanjung Enim Sumsel.
Baca juga:
Menurut Ahmad, anak Indonesia harus mampu menguasai kompetensi membaca analitis dan kritis, menguasai numerasi dan kemampuan berpikir kritis serta literasi sains dasar.
“Ini kompetensi dasar yang menjadi pondasi anak-anak di seluruh dunia. Ini kompetensi global yang harus dikuasai. Jadi ini sifatnya sangat penting dan harus menjadi prioritas pemerintah daerah di seluruh Indonesia,” ujar Ahmad.
Kompetensi berpikir tingkat tinggi juga harus dikuasai anak Indonesia seperti critical thinking dan problem solving. “ Anak Indonesia tidak cukup hanya bisa menghafal. Anak Indonesia harus mampu memecahkan berbagai problem kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Dengan tuntutan seperti itu, Gernas Tastaka hadir untuk memastikan para guru di daerah mampu mengajarkan literasi dan numerasi secara benar. Di tangan para guru, nasib anak-anak Indonesia dipertaruhkan. “Gernas Tastaka menggerakkan para guru agar menguasai berbagai materi kompetensi literasi dan numerasi dasar agar anak-anak Indonesia mampu menguasai kompetensi global,” tegas Ahmad.
Saat ini, menurutnya, kompetensi literasi dan numerasi anak Indonesia masih terpuruk. Hasil PISA (Programme for International Student Assessment 2022) menunjukkan kompetensi anak Indonesia sangat rendah.
Laporan PISA tahun 2022 menunjukkan skor membaca 359 dan matematika 366. Ini jauh menurun dibandingkan skor membaca PISA tahun 2018 yang sempat 371 dan skor matematika tahun 2018 yang sempat 379. Skor ini masih jauh di bawah rata-rata negara OECD sekitar 430–480 poin untuk membaca, matematika, dan sains. Skor membaca anak Indonesia saat ini bahkan paling rendah sejak Indonesia ikut PISA sejak tahun 2000.
“Skor di bawah 400 itu menggambarkan tantangan sangat besar dalam menerapkan pengetahuan untuk kehidupan sehari-hari. Ini persoalan besar yang harus jadi perhatian seluruh pemimpin di Indonesia, dari pusat hingga daerah. Tanpa perubahan masif dan mendasar pada kompetensi literasi dan numerasi ini, Indonesia Emas 2045 hanya angan-angan saja,” tandas Ahmad Rizali.(har)


