MataParlemen.id – Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitasnya. Rentetan erupsi dan muntahan lava terus terjadi dalam beberapa hari terakhir. 

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria, mengungkap pemicu utama aktivitas tersebut.

Fakta itu disampaikan dalam konferensi pers daring bertajuk Update Situasi Terkini Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau yang digelar Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Minggu (6/9/2026).

Menurut Lana, rentetan erupsi yang terjadi secara beruntun dipicu pasokan magma dan gas yang masih terus terdorong secara intensif dari dalam tubuh gunung.

“Erupsi kali ini memang terjadi berulang-ulang secara terus-menerus,” tegas Lana Saria, menyoroti peningkatan frekuensi letusan dibandingkan periode sebelumnya.

Secara historis, Anak Krakatau telah memasuki fase sangat aktif dalam satu dekade terakhir. Namun, aktivitas gunung api tersebut mulai kembali terdeteksi sejak pertengahan tahun ini sebelum akhirnya memuncak pada akhir pekan.

“Pada tahun ini, Gunung Anak Krakatau sudah mulai aktif sejak Juli 2026. Puncak erupsi telah berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026,” ungkapnya.

Puncak aktivitas pada akhir pekan tersebut ditandai erupsi berulang yang disertai fenomena air mancur lava (lava fountain).

Meski pasokan magma terus berlangsung di dalam kawah, Lana meminta masyarakat tetap rasional dan tidak mudah termakan hoaks. Ia menegaskan aktivitas tinggi tidak otomatis menjadi sinyal mutlak akan terjadinya erupsi berskala besar dalam waktu dekat.

Untuk memantau pergerakan Anak Krakatau, Badan Geologi tidak hanya berpatokan pada ketinggian asap atau abu vulkanis yang dilontarkan. Pemantauan dilakukan secara menyeluruh melalui instrumen kegempaan. Hasil pemantauan menunjukkan gunung tersebut masih aktif.

“Aktivitas Gunung Anak Krakatau berpotensi berfluktuasi dan meningkat. Ini karena masih terekamnya gempa frekuensi rendah serta hybrid, harmonik, dan tremor,” papar Lana.

Dengan kondisi aktivitas gunung yang masih tinggi, status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga. Lontaran material pijar, batuan vulkanis bersuhu tinggi, hujan abu pekat, hingga aliran material erupsi di sekitar kawah menjadi potensi bahaya yang dapat merusak peralatan dan membahayakan keselamatan manusia.

Lantas, kapan rentetan erupsi Anak Krakatau akan berhenti? Hingga kini, belum ada teknologi atau pakar di dunia yang dapat memastikan secara mutlak kapan sebuah gunung api akan kembali tidak aktif.

“Meskipun demikian, waktu, besar, dan bentuk erupsi berikutnya tidak dapat dipastikan secara tepat. Karena itu, evaluasi dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan perubahan seluruh parameter pemantauan,” pungkas Lana.

Masyarakat dan seluruh pihak yang beraktivitas di Selat Sunda diimbau mematuhi rekomendasi keselamatan, menjauhi zona larangan, dan hanya merujuk pada informasi resmi pemerintah agar terhindar dari disinformasi.(erc)

Share.
Exit mobile version