Close Menu
MataParlemenMataParlemen
  • Peristiwa
  • Hukum
  • DPR
  • MPR
  • DPD
Populer Hari Ini

DPR Dukung Pemerintah Tolak Visa Konser Israel Houghton Di Jakarta

Oktober 7, 2026

RUU Perampasan Aset Disetujui Semua Fraksi Masuk Pembahasan Tingkat I

Oktober 6, 2026

Program KPTDP dan Perlinsos Terkendala di Daerah, Mendagri dan Kemensos Diminta Turun Tangan

Oktober 5, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
MataParlemenMataParlemen
Login
  • Peristiwa
  • Hukum
  • DPR
  • MPR
  • DPD
MataParlemenMataParlemen
Home » Puan: Perundungan di Balik Kasus Bom Rakitan, Dorong Penguatan Iklim Sekolah Aman Bagi Anak
DPR

Puan: Perundungan di Balik Kasus Bom Rakitan, Dorong Penguatan Iklim Sekolah Aman Bagi Anak

RedaksiBy RedaksiJuli 16, 2026
Share Facebook Twitter Pinterest Copy Link LinkedIn Tumblr Email Telegram WhatsApp
Follow Us
Google News Flipboard
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

MataParlemen.id – Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti isu perundungan di balik kasus peledakan bom rakitan oleh seorang siswa di Kota Padang, Sumatera Barat. Pelaku diketahui melakukan aksinya karena kesal setelah menjadi korban bullying atau perundungan teman-temannya.

“Tentunya peristiwa peledakan bom rakitan di sekolah di Padang sangat kita sesalkan. Namun dalam kasus ini, perlu dilihat akar persoalan mengapa anak yang dimaksud nekat melakukan perbuatan tersebut,” tegas.Puan, Kamis (16/7/2026).

Seperti diketahui, kasus peledakan bom rakitan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang yang terjadi pada Selasa (14/7) menggegerkan publik. Pelaku merupakan pelajar berinisial R (17) yang merupakan siswa sekolah itu.

R membawa 3 bom rakitannya sendiri, namun hanya 1 yang meledak di depan salah satu kelas saat kegiatan belajar mengajar. Beruntung tak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Polisi mengatakan R merupakan korban perundungan yang dilakukan teman-temannya sehingga mengalami masalah psikologis. Untuk itu, Puan meminta instansi terkait untuk membantu pemulihan mental korban.

“Apa yang dilakukan korban memang tidak bisa dibenarkan. Tapi seringkali persoalan psikologis membawa dampak sehingga pemulihan mental korban harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Menurut Puan, peristiwa ledakan bom rakitan di lingkungan MAN 3 Padang menjadi peringatan serius bahwa karakter persoalan remaja Indonesia telah mengalami perubahan yang sangat mendasar.

Puan menyebut, tindakan R dengan dugaan perundungan yang berkepanjangan serta kemudahan memperoleh informasi mengenai perakitan bahan peledak melalui internet menunjukkan bahwa berbagai persoalan yang selama ini dipandang sebagai kenakalan remaja telah berkembang menjadi perilaku berisiko tinggi (high-risk behavior) yang dapat mengancam keselamatan banyak orang.

“Perubahan tersebut harus menjadi alarm nasional bahwa sistem perlindungan anak Indonesia perlu segera beradaptasi dengan tantangan baru di era digital,” ungkap Puan.

Lebih lanjut, mantan Menko PMK ini mengingatkan pentingnya lingkungan pendidikan memastikan anak memperoleh perlindungan yang layak. Meski pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, Puan mengingatkan pentingnya satuan pendidikan memastikan keamanan dan kenyamanan anak selama belajar.

“Iklim pendidikan juga harus mendapat perhatian di mana satuan pendidikan harus bisa memastikan anak mendapatkan ruang sekolah aman dan lingkungan pendidikan yang sehat. Termasuk memastikan anak terbebas dari perundungan. Sementara orangtua juga perlu melakukan pengawasan dan memperkuat ketahanan keluarga di rumah,” kata Puan.

Kemudian untuk Pemerintah, Puan mengatakan penanganan kenakalan remaja harus diselesaikan secara komprehensif melalui berbagai pendekatan.

“Karena persoalan kenakalan remaja tidak cukup ditangangi hanya melalui pendekatan disiplin sekolah atau penegakan hukum setelah suatu peristiwa terjadi. Negara perlu mengubah paradigma kebijakan dari penanganan kasus menjadi pencegahan berbasis deteksi dini,” tambah Puan.

Puan mengatakan, kasus seperti ini memperlihatkan bahwa berbagai faktor risiko-mulai dari perundungan, tekanan psikologis, isolasi sosial, paparan konten kekerasan di ruang digital, hingga lemahnya komunikasi antara sekolah, keluarga, dan layanan kesehatan, sering kali berkembang dalam waktu yang panjang tanpa pernah teridentifikasi secara sistematis.

“Pemerintah perlu menyusun Strategi Nasional Pencegahan Perilaku Berisiko pada Anak dan Remaja yang mengintegrasikan kebijakan pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, keamanan digital, dan pembinaan keluarga dalam satu kerangka nasional,” tambahnya.

Puan mendorong Pemerintah untuk memastikan bahwa sekolah, fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta kementerian terkait memiliki sistem koordinasi yang mampu mendeteksi dan menangani berbagai faktor risiko sebelum berkembang menjadi tindakan kekerasan.

“Perlindungan anak tidak boleh lagi berjalan secara sektoral, tetapi harus dibangun sebagai sistem yang saling terhubung dengan mekanisme kerja yang jelas,” tutur Puan.

Puan meminta Pemerintah memperkuat sistem deteksi dini nasional terhadap perubahan perilaku remaja. Hal ini mengingat kejadian seperti di Padang bukan kali pertama terjadi.

Sebelumnya peristiwa ledakan juga terjadi di SMA Negeri 72 Jakarta pada 7 November 2025 yang menyebabkan sejumlah anak terluka. Pelaku yang merupakan pelajar sekolah itu menggunakan bahan peledak rakitan dan melakukan aksinya dipicu dendam akibat menjadi korban bullying.

Oleh karenanya, Puan mengingatkan pentingnya kesehatan lingkungan di sekolah.

“Setiap satuan pendidikan perlu memiliki mekanisme pemetaan iklim sekolah, pelaporan perundungan yang aman, asesmen kesehatan mental, serta prosedur rujukan yang cepat kepada layanan kesehatan maupun perlindungan anak,” tutur Puan.

Pada saat yang sama, Puan menilai Pemerintah harus memperluas kapasitas puskesmas, layanan psikologis, dan tenaga konselor agar intervensi dapat dilakukan sedini mungkin terhadap remaja yang menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis maupun perilaku berisiko.

“Pencegahan harus dimulai sebelum seorang anak memasuki fase krisis,” ucap perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI tersebut.

Di sisi lain, Puan memandang perlindungan anak harus diperluas hingga ke ruang siber di tengah tantangan era digital. Ia menyinggung Pemerintah sudah memiliki regulasi perlindungan anak dari risiko penggunaan internet melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).

Apalagi diperkuat dengan diperkuat dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 yangvmewajibkan platform digital (PSE) untuk memverifikasi usia pengguna, membatasi pelacakan data/iklan untuk anak, serta menyediakan fitur pengawasan orang tua.

“Regulasinya sudah ada, maka yang diperlukan adalah penguatan dari berbagai sektor sehingga implementasi berbagai kebijakan perlindungan anak di ruang digital semakin maksimal,” ungkap Puan.

Puan juga mendorong agar Pemerintah memperkuat pengawasan terhadap penyebaran konten yang mengajarkan kekerasan, pembuatan bahan peledak, maupun bentuk-bentuk konten ekstrem lainnya yang dapat diakses oleh anak dan remaja.

“Bersamaan dengan itu, literasi digital harus diarahkan tidak hanya pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga pada pembentukan karakter, kemampuan mengelola emosi,” katanya.

“Termasuk pendidikan agar anak dapat menyelesaikan konflik secara damai, serta membangun ketahanan mental generasi muda dalam menghadapi tekanan sosial di dunia nyata maupun dunia digital,” lanjut Puan.

Selain itu, Puan meminta Pemerintah menetapkan indikator nasional perlindungan anak dan kesehatan mental remaja sebagai bagian dari evaluasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

“Keberhasilan kebijakan tidak cukup diukur dari meningkatnya angka partisipasi sekolah atau capaian akademik, tetapi juga dari menurunnya angka perundungan, meningkatnya akses terhadap layanan kesehatan mental, menurunnya perilaku berisiko di kalangan remaja, serta meningkatnya rasa aman peserta didik di lingkungan pendidikan,” ungkapnya.

Puan menegaskan, perlindungan terhadap anak harus menjadi ukuran keberhasilan pembangunan yang sama pentingnya dengan peningkatan kualitas pendidikan.

“Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mencetak generasi yang cerdas, tetapi juga oleh kemampuan negara membangun generasi yang sehat secara mental, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan secara positif,” pungkas Puan. (amar)

DPR RI peledakan bom rakitan Penguatan Iklim Sekolah Puan Maharani
Follow on Google News Follow on Flipboard
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Copy Link
Redaksi

Related Posts

Komisi III DPR Minta Pelaku Korupsi Dana Bencana BNPB Dihukum Berat

Oktober 15, 2026

Misbakhun Bawa Pesan Bahlil Ajak Kader Golkar Sukseskan Program Prabowo

Oktober 15, 2026

DPR Kritik Pertamina Soal Kelangkaan BBM Di Bali

Oktober 14, 2026
Berita Terkini

Prioritaskan Pencaker Lokal Bintuni, Senator Filep Dorong Transparansi Rekrutmen Migas

Oktober 16, 20260 Views

Senator Abdi Sumaithi Siap Perjuangkan Aspirasi Ojol Kabupaten Tangerang di Senayan

Oktober 16, 20260 Views

KPK Sita Uang Tunai Rp 800 Juta Dari Hercules Kasus Summarecon Bogor

Oktober 16, 20260 Views

Presiden Prabowo Setuju Bantuan Asing, Kristomei : Kebakaran Hutan Masalah Bersama

Oktober 16, 20260 Views

Komisi X Desak Usut Tuntas Kasus Pelecehan Seksual Di Unpas

Oktober 16, 20260 Views

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Berita Terpopuler

Banpres Senilai Rp 125 Milyar Karhutla Di Kalteng, Bambang Purwanto Ingatkan Transparansi Penggunaan Dana

Oktober 13, 202614 Views

Bambang Purwanto Dorong Warga Jabiren Olah Ikan Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Oktober 11, 20267 Views

Bambang Purwanto Mengingatkan Menhut Raja Juli Lebih Serius Tangani Karhutla Di Kalteng

Oktober 14, 20266 Views
Pilihan Editor

Prioritaskan Pencaker Lokal Bintuni, Senator Filep Dorong Transparansi Rekrutmen Migas

Oktober 16, 2026

Senator Abdi Sumaithi Siap Perjuangkan Aspirasi Ojol Kabupaten Tangerang di Senayan

Oktober 16, 2026

KPK Sita Uang Tunai Rp 800 Juta Dari Hercules Kasus Summarecon Bogor

Oktober 16, 2026

Subscribe to Updates

Dapatkan berita terkini dan eksklusif langsung ke email Anda, setiap harinya!

Facebook X (Twitter) Instagram
  • Redaksi
© 2026 MataParlemen.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?