MataParlemen.id- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari daerah pemilihan (dapil) Sumatera Barat, Irman Gusman sinergi dan kerja sama yang baik antara Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi dalam memajukan potensi pariwisata setempat.
Untuk itu, Senator yang pernah menjabat Ketua DPD RI pada dua periode ini mendorong Kabupaten Agam bisa menjadi wilayah penyangga Kota Bukittinggi untuk mendapatkan hasil maksimal dari potensi pariwisata kedua wilayah di Sumatera Barat ini.
Saat menghadiri pelantikan pengurus Ikatan Kerukunan Keluarga Perantau Lambah (IKKPL) Sumatera Barat, Irman mengajak semua pihak di Kabupaten Agam untuk mendorong Agam sebagai wilayah penyangga strategis pariwisata Kota Bukittinggi.
Ajakan tersebut disampaikan Irman karena Kabupaten Agam belum mampu dikelola secara baik sebagai penyangga pariwisata dan penggerak perekonomian Bukittinggi.
“Kita harus menangkap tumpahan wisatawan dari Bukittinggi agar mereka tidak sekadar lewat, tetapi menginap, berbelanja, menikmati kuliner, dan merasakan kekayaan budaya yang dimiliki IV Koto,” ucap Irman Gusman padà pelantikan pengurus IKKPL di Gedung Serbaguna PKDP, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Sabtu (30/5/2026). Pengurus IKKPL dilantik langsung oleh Wakil Bupati Agam, M. Iqbal.
Irman pun mencontoh kerja sama saling mendukung dan melengkapi antara Kabupaten Badung dan Kota Denpasar sebagai ibukota provinsi Bali di sektor pariwisata dan penggerak perekonomian masyarakat.
Menurut Irman, Kabupaten Badung sebagai wilayah penyangga strategis Kota Denpasar di sektor pariwisata berhasil mendongkrak pendapatan daerah dua wilayah tersebut.
Hasilnya, sambung Irman, Kabupaten Badung yang mengelilingi Kota Denpasar mampu mengoptimalkan potensi pariwisata hingga memiliki PAD sekitar Rp6,7 triliun, jauh di atas Kota Denpasar.
Lebih jauh, Irman Gusman menjelaskan bahwa Kabupaten Agam, terutama Kecamatan IV Koto memiliki posisi geografis yang sangat strategis karena berbatasan langsung dengan Kota Bukittinggi, salah satu destinasi wisata utama di Sumatera Barat.
Karena itu, ia mendorong IV Koto disiapkan menjadi kawasan penyangga wisata unggulan agar mampu menangkap limpahan wisatawan dari Bukittinggi.
Dia menilai Kabupaten Agam sejatinya memiliki potensi ekonomi dan pariwisata yang sangat besar, tetapi belum dikelola secara optimal. Ia menyoroti ketimpangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) antara Bukittinggi dan Agam.
“Saat ini PAD Bukittinggi sudah sekitar Rp700 miliar, sementara Agam baru sekitar Rp200 miliar. Padahal Bukittinggi tidak akan begitu terkenal tanpa Ngarai Sianok, tanpa Koto Gadang, dan daerah-daerah penyangga lainnya di Agam,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Irman mengajak para perantau Lambah, Nagari Sianok Anam Koto, Kecamatan IV Koto (Ampek Koto), Kabupaten Agam, untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus mengambil peran lebih besar dalam membangun kampung halaman melalui sinergi erat antara ranah dan rantau.
“Ini perlu menjadi perhatian kita bersama, Pak Iqbal (Wakil Bupati Agam). Apa yang salah dengan Agam? Mari kita benahi bersama,” kata Irman di hadapan Wakil Bupati Agam.
Lebih jauh, Irman mengemukakan gagasan pengembangan kawasan wisata terpadu yang menghubungkan Ngarai Sianok, Koto Gadang, Balingka, Sungai Landia, Guguak, hingga Lambah melalui kerja sama antarnagari yang terencana dan saling mendukung.
Ia mencontoh keberhasilan Nagari Koto Gadang yang telah ditetapkan sebagai Desa Wisata Terbaik Kedua Tingkat Nasional Tahun 2025 sebagai bukti bahwa pengembangan berbasis potensi lokal dapat menghasilkan prestasi nasional.
“Mari kita pikirkan bagaimana menghidupkan Sianok yang begitu indah, lalu terhubung hingga ke Lambah. Jangan berjalan sendiri-sendiri. Kita perlu sinergi agar tidak saling tumpang tindih,” ujarnya.
Khusus untuk Lambah dan Sianok Anam Koto, Irman melihat potensi besar pada sektor wisata alam Lembah Sianok, kuliner khas seperti gulai itiak lado mudo, serta industri fesyen muslim, tekstil, dan konveksi yang diperkuat oleh jejaring warga perantau.
Menurutnya, wisatawan yang datang ke IV Koto harus memperoleh pengalaman yang lengkap—mulai dari wisata alam, sejarah, kuliner, hingga produk ekonomi kreatif masyarakat.
Selain sektor pariwisata, Irman juga menekankan pentingnya penguatan ekonomi masyarakat melalui Koperasi Desa (KOPDES) Merah Putih. Menurutnya, setiap nagari harus memiliki fokus usaha berbeda sesuai keunggulan masing-masing agar tercipta ekosistem ekonomi yang saling menopang.
Untuk kawasan Lambah dan Sianok Anam Koto, ia menilai koperasi dapat diarahkan menjadi pusat produksi tekstil, penyedia bahan baku konveksi, hingga pengembangan produk fesyen khas berbasis jaringan perantau IKKPL.
“Orang Minang itu DNA-nya saudagar. Bung Hatta pun berasal dari keluarga saudagar. Karena itu ekonomi masyarakat harus kita bangkitkan. Minang harus menjadi pionir di tengah berbagai kesulitan bangsa saat ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Irman juga menyampaikan apresiasi kepada Camat IV Koto, Subchan, atas dukungan dan koordinasi yang dinilainya kuat dalam mendorong kemajuan nagari-nagari di IV Koto, termasuk membangun komunikasi dengan warga perantau.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina IKKPL sekaligus Ketua Forum Minang Maimbau, Firdaus HB, mengingatkan pentingnya kolaborasi antara ranah dan rantau dalam membangun kampung halaman.
“Jangan ragu mengurus orang. Allah yang akan mengurus diri kita. Kita rindu kampung halaman kita. Karena itu kita perlu bersinergi antara ranah dan rantau,” ujar Firdaus.
Senada dengan itu, Wakil Bupati Agam, M. Iqbal, mengaku terharu melihat semangat para perantau Lambah dalam pengukuhan pengurus IKKPL yang dipimpin M. Ifdal.
“Kami merasa bangga dan terhormat. Ini menunjukkan kecintaan perantau terhadap kampung halaman masih sangat kuat,” ujar Iqbal.
Kegiatan itu turut dihadiri Camat IV Koto, Subchan, Ketua IKKPL M. Ifdal beserta jajaran pengurus yang baru dilantik, Ketua Dewan Pembina IKKPL Ir. Firdaus HB St. Bandaro, Ketua Panitia Syafriyaldi St. Kayo, para tokoh masyarakat, ninik mamak, cadiak pandai, bundo kanduang, serta keluarga besar perantau Lambah dari berbagai wilayah Jabodetabek.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut juga digelar dialog interaktif dengan pembicara Irman Gusman, Camat IV Koto Subchan, dan Ketua IKKPL M. Ifdal, yang dipandu langsung oleh Firdaus HB, membahas strategi membangun ekonomi nagari, pengembangan wisata kawasan IV Koto, serta penguatan sinergi antara ranah dan rantau demi kebangkitan Agam dari Ampek Koto.(har)


