MataParlemen.id – Realisasi investasi di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan menjelang genap dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi mencatat realisasi investasi meningkat dari sekitar Rp 1.714 triliun pada 2024 menjadi Rp 1.931 triliun pada 2025, sekaligus melampaui target yang telah ditetapkan. Bahkan, realisasi investasi tahun ini masih dalam tren positif menuju target Rp 2.000 triliun hingga akhir tahun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengungkapkan, dalam periode 2014 hingga 2024, total investasi yang masuk ke Indonesia tercatat sekitar Rp 9.100 triliun. Sementara itu, pemerintah menargetkan investasi lebih dari Rp 13.000 triliun dalam periode 2024-2029 untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi 8%.
Rosan membeberkan, pertumbuhan investasi juga berlanjut pada 2026. Pada semester pertama tahun ini, realisasi investasi mencapai Rp 1.010 triliun atau tumbuh 7,2%. Investasi tersebut disebut telah menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja langsung, belum termasuk tenaga kerja pendukung dan aktivitas ekonomi yang tercipta dari kegiatan investasi.
Menurut Rosan, peningkatan investasi tidak hanya diukur dari besarnya nilai modal yang masuk, tetapi juga dari kualitas dampaknya terhadap perekonomian dan penciptaan lapangan kerja.
“Dan kalau kita lihat lagi, tentunya investasi yang ingin kita masukkan adalah investasi yang berkualitas,” ungkap Rosan dalam acara Investor Daily Summit (IDS) 2026 di Raffles Hotel Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Rosan membeberkan salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah meningkatnya kontribusi investasi di sektor hilirisasi. Jika sebelumnya investasi hilirisasi berada di kisaran 25% dari total investasi, kini porsinya telah meningkat menjadi sekitar 30%.
Investasi hilirisasi tersebut masih didominasi sektor mineral. Namun, pemerintah melihat tren kontribusinya masih berpotensi meningkat seiring perluasan hilirisasi ke berbagai sektor.
Rosan menegaskan, agenda hilirisasi tidak hanya diarahkan pada sektor mineral.
Pengembangan hilirisasi terus diperluas ke sektor perkebunan, kelautan, dan sektor-sektor lainnya.
“Dan tentunya kita juga melakukan hilirisasi ini tidak hanya di minerals, tetapi juga di perkebunan, di kelautan, dan yang lain-lain,” pungkasnya.(erc)




