MataParlemen.id-Produksi beras nasional diperkirakan terus meningkat hingga Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras untuk konsumsi masyarakat sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 25,28 juta ton, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan produksi padi dan bertambahnya luas panen, sehingga memperkuat optimisme pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus mewujudkan swasembada pangan secara berkelanjutan.

Berdasarkan rilis BPS, produksi beras untuk konsumsi masyarakat pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,84 juta ton.

Sementara itu, potensi produksi beras pada periode Juni hingga Agustus 2026 diperkirakan mencapai 8,42 juta ton atau meningkat 0,10 juta ton atau 1,17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan produksi beras sejalan dengan kenaikan produksi padi. BPS memperkirakan produksi padi pada Mei 2026 mencapai 4,92 juta ton gabah kering giling (GKG).

Baca juga:

Adapun potensi produksi padi selama Juni-Agustus 2026 diproyeksikan sebesar 14,61 juta ton GKG atau naik 0,17 juta ton GKG atau 1,18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Dengan demikian produksi padi sepanjang Januari sampai dengan Agustus tahun 2026 diperkirakan mencapai 43,89 juta ton GKG atau mengalami peningkatan sebesar 0,03 juta ton GKG atau meningkat sekitar 0,06 persen dibandingkan periode Januari-Agustus tahun 2025,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng.

Selain produksi, luas panen padi juga menunjukkan tren peningkatan. Pada Mei 2026, luas panen mencapai 0,98 juta hektare.

Sementara potensi luas panen pada Juni hingga Agustus 2026 diperkirakan mencapai 2,88 juta hektare atau bertambah 0,04 juta hektare atau 1,38% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Secara kumulatif, luas panen padi sepanjang Januari sampai dengan Agustus tahun 2026 diperkirakan mencapai 8,35 juta hektare atau mengalami kenaikan seluas 0,04 juta hektare atau naik 0,43 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025,” ujar Ateng.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, peningkatan produksi pangan merupakan hasil berbagai kebijakan strategis pemerintah, mulai dari percepatan tanam, rehabilitasi jaringan irigasi, penurunan harga pupuk bersubsidi, optimalisasi lahan, mekanisasi pertanian, hingga kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah yang dinilai lebih berpihak kepada petani.

Alhamdulillah, produksi pangan nasional terus menunjukkan tren positif. Arahan Bapak Presiden Prabowo sangat jelas, yaitu memperkuat produksi pangan nasional agar Indonesia semakin mandiri dan petani semakin sejahtera,” kata Amran.

Menurut Amran, tren positif tersebut juga sejalan dengan proyeksi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang memperkirakan produksi beras Indonesia mencapai sekitar 38 juta ton pada 2026.

Capaian itu dinilai menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan produksi beras tertinggi di dunia.

“FAO memproyeksikan produksi beras Indonesia tahun ini mencapai sekitar 38 juta ton. Ini menunjukkan bahwa kebijakan yang dilakukan pemerintah berada pada jalur yang benar. Indonesia kini tidak hanya mampu memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga mulai diperhitungkan dunia sebagai salah satu kekuatan pangan global,” ujar Amran.

\Pemerintah, lanjut Amran, akan terus memperkuat berbagai program prioritas untuk menjaga momentum peningkatan produksi pangan. Program tersebut meliputi pembangunan dan rehabilitasi irigasi, perluasan areal tanam, optimalisasi lahan rawa, pengembangan mekanisasi pertanian, penggunaan benih unggul, hingga penguatan hilirisasi sektor pertanian.

“Kita tidak boleh berhenti. Produksi harus terus ditingkatkan, biaya produksi petani harus ditekan, dan kesejahteraan petani harus terus naik. Dengan kerja bersama, kita optimistis Indonesia mampu mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan,” tegas Amran.

Data BPS menunjukkan peningkatan produksi beras, produksi padi, dan luas panen hingga pertengahan 2026 menjadi modal penting untuk menjaga pasokan pangan nasional. Kondisi tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan Indonesia di tengah ketidakpastian global. (awn)

Share.
Exit mobile version