MataParlemen.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan kondisi terkini industri tekstil dan produk tekstil (TPT) kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Airlangga mengatakan industri TPT merupakan salah satu sektor strategis karena menyumbang hampir 1% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja. Dari sisi ekspor, industri tersebut mencatat nilai sekitar US$ 12 miliar.
Menurut Airlangga, industri TPT merupakan salah satu sektor padat karya yang strategis. Pertumbuhan industri TPT juga berada di atas pertumbuhan ekonomi, yakni mencapai 5,6%.
“Ini menjadi salah satu sektor padat yang strategis. Dalam arahan tadi, kita sampaikan bahwa TPT ini tumbuhnya di atas pertumbuhan ekonomi yaitu 5,6%, dan untuk industri barang kulit dan alas kaki tumbuhnya 8,25%,” ujarnya.
Meski tumbuh positif, Airlangga mengatakan industri TPT masih menghadapi sejumlah persoalan. Salah satunya adalah harmonisasi tarif dari sektor hulu hingga hilir. Pemerintah juga menyoroti persoalan bea masuk antidumping yang mendapat tanggapan dari industri garmen.
Pada sisi lain, utilisasi pabrik tekstil saat ini masih berada di kisaran 75%. Menurut Airlangga, kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang bagi industri untuk melakukan ekspansi.
Airlangga juga menjelaskan perbedaan kondisi perdagangan antara sektor tekstil sebagai bahan baku dan industri pakaian jadi. Berdasarkan neraca perdagangan tahun lalu, sektor tekstil dari sisi bahan baku masih mencatat impor lebih tinggi dibandingkan ekspor.
“Kalau kita lihat neraca perdagangan tekstil tahun kemarin, dalam hal bahan baku, impornya lebih tinggi, sekitar US$ 8,4 miliar, dan dari segi ekspornya rendah, sebesar US$ 3,1 miliar,” ungkapnya.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi pada industri pakaian jadi. Ekspor pakaian jadi tercatat sekitar US$ 8,7 miliar, sedangkan impornya sekitar US$ 690 juta.(erc)




