MataParlemen.id – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyiapkan laporan pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusan selama 5 tahun yang mencapai hampir 1.000 halaman.
LPJ tersebut akan disampaikan dalam rangkaian Muktamar NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Gus Yahya mengatakan LPJ tersebut disusun secara cukup tebal karena memuat berbagai kegiatan dan program yang telah dijalankan PBNU selama satu periode kepengurusan.
“Alhamdulillah kita sudah siapkan LPJ kita hampir 1.000 halaman. Memang karena kegiatan sangat padat selama lima tahun ini,” kata Gus Yahya, Juat (28/8/2026).
Menurutnya, LPJ tersebut juga memuat berbagai capaian yang merupakan tindak lanjut dari amanat Muktamar NU ke-34 di Lampung. Sejumlah target yang telah ditetapkan dalam muktamar sebelumnya disebut telah berhasil direalisasikan.
“Target-target yang diamanatkan oleh Muktamar ke-34 di Lampung sudah hampir 40% bisa dibahas,”ujarnya.
Gus Yahya menilai capaian tersebut juga telah dirasakan oleh jajaran pengurus NU di berbagai tingkatan. Ia menyebut salah satu capaian penting adalah peningkatan kinerja serta pembenahan dan kemudahan manajemen organisasi.
“PC juga merasakan apa yang sudah menjadi capaian, sudah menikmati. Kita berhasil meningkatkan kinerja, mempermudah manajemen organisasi dan lain sebagainya,” katanya.
Dengan berbagai capaian tersebut, Gus Yahya optimistis LPJ kepengurusannya dapat diterima oleh peserta Muktamar ke-35 NU. “Saya kira enggak ada alasan untuk menolak,” tegasnya.
Gus Yahya menjelaskan untuk muktamar ini, dirinya akan kembali maju sebagai calon ketua umum PBNU. Dia beralasan Muktamar NU ke-35 memiliki posisi strategis karena menjadi muktamar pertama yang digelar pada abad kedua perjalanan NU. Karena itu, keputusan yang dihasilkan akan menentukan arah organisasi ke depan.
“Muktamar ini adalah muktamar strategis, istimewa, yang pertama di abad kedua. Sehingga apa pun yang menjadi keputusan muktamar ini akan menentukan bagaimana Nahdlatul Ulama mengarungi abad kedua ini,” terangnya.
Gus Yahya menambahkan adanya isu intervensi terhadap pengurus wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan pengurus cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dalam proses muktamar. Ia meyakini para pengurus NU memiliki integritas dan tidak mudah dipengaruhi oleh kepentingan pragmatis.
“Saya kira PW dan PC adalah kader-kader yang memiliki integritas yang tinggi sehingga mereka tidak mudah dipengaruhi dengan hal-hal yang pragmatis dan tidak akan goyah kepada idealisme organisasi,” katanya.
PWNU dan PCNU pun memiliki kesadaran untuk menjaga proses muktamar agar tidak dipengaruhi intervensi negatif.
“Saya yakin PW dan PC memiliki kesadaran kuat karena yang ada di dalam PW dan PC tidak akan diintervensi dengan hal-hal yang negatif,” pungkasnya.(erc)


