Close Menu
MataParlemenMataParlemen
  • Peristiwa
  • Hukum
  • DPR
  • MPR
  • DPD
Populer Hari Ini

Banpres Senilai Rp 125 Milyar Karhutla Di Kalteng, Bambang Purwanto Ingatkan Transparansi Penggunaan Dana

Oktober 13, 2026

Bambang Purwanto Mengingatkan Menhut Raja Juli Lebih Serius Tangani Karhutla Di Kalteng

Oktober 14, 2026

KPK OTT BNPB Amankan Uang Rp 1,4 Milyar Dan Emas Batangan

Oktober 13, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
MataParlemenMataParlemen
Login
  • Peristiwa
  • Hukum
  • DPR
  • MPR
  • DPD
MataParlemenMataParlemen
Home » DPD RI Kritisi Paradoks Pertumbuhan Ekonomi dan Nasib Kelas Menengah yang Terhimpit
DPD

DPD RI Kritisi Paradoks Pertumbuhan Ekonomi dan Nasib Kelas Menengah yang Terhimpit

RedaksiBy RedaksiJuni 22, 2026
Share Facebook Twitter Pinterest Copy Link LinkedIn Tumblr Email Telegram WhatsApp
Follow Us
Google News Flipboard
Pimpinan Komite IV DPD RI nemimpin Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) terkait penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun 2027 (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

MataParlemen.id– Rencana pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6,5 persen pada 2027 dinilai tidak akan berarti apabila kesejahteraan masyarakat di daerah belum ikut terdongkrak. Komite IV DPD RI mengingatkan agar daerah tidak hanya menjadi penonton dalam agenda besar hilirisasi dan industrialisasi nasional.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Komite IV DPD RI, Novita Annakota saat memimpin Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) terkait penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun 2027, bersama Direktur Kebijakan Publik CELIOS Media Wahyudi Askar dan Direktur Pendapatan Daerah Kementerian Dalam Negeri Teguh Narutomo, di Gedung DPD RI, Senin (22/6/2026).

Menurut Novita Annakota, penyusunan KEM-PPKF 2027 dilakukan di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, serta gejolak harga energi dan pangan yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus dirasakan hingga ke daerah. Jangan sampai daerah hanya menjadi objek, sementara manfaat pembangunan tidak merata,” ucap Novita saat memimpin rapat tersebut.

Baca juga:

Fahri Hamzah: Banyak Orang Kaget Transformasi Besar-besaran yang Dilakukan Prabowo

Ia menilai target pertumbuhan ekonomi 5,8–6,5 persen pada 2027 merupakan target yang optimistis sekaligus menjadi ujian bagi kapasitas pelaksanaan kebijakan, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Komite IV DPD RI juga menyoroti paradoks pertumbuhan ekonomi nasional. Meskipun perekonomian Indonesia tumbuh rata-rata 5 persen dalam beberapa tahun terakhir, penurunan kemiskinan dan ketimpangan belum berjalan sebanding, bahkan kelas menengah mengalami penyusutan.

“Pertumbuhan tanpa pemerataan hanya akan memperlebar kesenjangan. Instrumen fiskal harus menjadi sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar angka pertumbuhan,” ujarnya.

Menyikapi hal itu, Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Wahyudi Askar mengungkapkan bahwa ada paradoks utama pada KEM-PPKF 2027 yang terletak pada keyakinan lama bahwa pertumbuhan tinggi otomatis melahirkan kesejahteraan.

Faktanya, pertumbuhan stabil 5 persen selama satu dekade gagal menekan kemiskinan secara berarti, sementara 59,4 persen angkatan kerja terjebak di sektor informal tanpa jaminan sosial.

Di tengah narasi pertumbuhan yang dikejar hingga 6,5 persen, kelas menengah justru menyusut akibat stagnasi upah riil, deindustrialisasi dini, dan nilai tambah yang terkonsentrasi pada pemilik modal. Pertumbuhan dirayakan di atas kertas, tetapi fondasi sosial yang menopangnya justru kian rapuh.

“Ekonomi Indonesia menciptakan pekerjaan, namun bukan pekerjaan layak. Di tengah narasi pertumbuhan tinggi, kelas menengah justru menyusut dan kehilangan daya beli riil—bukti bahwa angka PDB yang naik tidak otomatis menjadi kesejahteraan yang nyata,” ungkap Wahyudi.

Menutup rapat, Ketua Komite IV DPD RI, Ahmad Nawardi menyoroti kerentanan kapasitas fiskal di tingkat daerah.

Hingga saat ini, pendanaan pembangunan di daerah masih bergantung secara absolut pada dana transfer dari pemerintah pusat.

“Upaya daerah untuk mencari alternatif pembiayaan inovatif seperti penerbitan obligasi daerah (municipal bond) masih berjalan di tempat. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kapasitas SDM, kerumitan regulasi lintas kementerian, persepsi risiko pasar, hingga keengganan politik (political will) di tingkat lokal,” ujarnya.

Lanjutnya, DPD RI mengingatkan pemerintah agar arsitektur APBN 2027 yang difokuskan pada hilirisasi, industrialisasi, serta ketahanan pangan dan energi tidak bersifat sentralistik. Daerah harus diberi peran sebagai motor penggerak, bukan sekadar penonton.

“Daerah harus menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar pelaksana kebijakan dari pusat,” pungkas Ahmad. (awn)

Follow on Google News Follow on Flipboard
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Copy Link
Redaksi

Related Posts

Denny Indrayana dkk Laporkan KPU Ke DKPP Dugaan Penyelundupan Loloskan Gibran

Oktober 14, 2026

BNPB : Pelayanan Berjalan Normal Ditengah Kabar OTT KPK

Oktober 13, 2026

Wakil Ketua DPD Takkan Diam Dan Terima Masukan Denny Indrayana Terkait Pemakzulan Gibran

Oktober 13, 2026
Berita Terkini

Ombudsman RI Matangkan 11 Rekomendasi Pembenahan Lapas

Oktober 14, 20260 Views

KPK Berharap Nusron Wahid Hadir Memenuhi Panggilan KPK Besok

Oktober 14, 20260 Views

DPR Kritik Pertamina Soal Kelangkaan BBM Di Bali

Oktober 14, 20260 Views

Ketua KPK Membenarkan Salah Satu Tersangka OTT BNPB Adik Kepala BNPB

Oktober 14, 20260 Views

KPK Tetapkan 5 Tersangka OTT BNPB Salah Satunya Adik Kepala BNPB

Oktober 14, 20260 Views

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Berita Terpopuler

Banpres Senilai Rp 125 Milyar Karhutla Di Kalteng, Bambang Purwanto Ingatkan Transparansi Penggunaan Dana

Oktober 13, 202614 Views

Komisi IX DPR RI Dorong Permenkes Untuk Lindungi Pasien Dari MalPraktek

Oktober 7, 202611 Views

Bambang Purwanto Dorong Warga Jabiren Olah Ikan Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Oktober 11, 20267 Views
Pilihan Editor

Ombudsman RI Matangkan 11 Rekomendasi Pembenahan Lapas

Oktober 14, 2026

KPK Berharap Nusron Wahid Hadir Memenuhi Panggilan KPK Besok

Oktober 14, 2026

DPR Kritik Pertamina Soal Kelangkaan BBM Di Bali

Oktober 14, 2026

Subscribe to Updates

Dapatkan berita terkini dan eksklusif langsung ke email Anda, setiap harinya!

Facebook X (Twitter) Instagram
  • Redaksi
© 2026 MataParlemen.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?