MataParlemen.id– Mengubah kebiasaan masyarakat dari berobat ketika sakit menjadi rutin memeriksa kesehatan menjadi salah satu tantangan besar pembangunan kesehatan Indonesia. Untuk itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Drg. Putih Sari mendukung Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai upaya memperluas deteksi dini penyakit sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Diluncurkan pada 10 Februari 2025, CKG memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menjalani pemeriksaan kesehatan tanpa dipungut biaya sesuai ketentuan yang berlaku. Memasuki tahun kedua pemerintahan Prabowo–Gibran, program ini diharapkan tidak hanya memperluas pelayanan, tetapi juga mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang dipublikasikan Kementerian Sekretariat Negara, hingga awal Oktober 2026 sebanyak 105.073.600 penduduk telah mengikuti CKG. Jumlah tersebut mencapai sekitar 80,6 persen dari target 130.344.650 peserta sepanjang 2026.
Capaian tersebut menunjukkan luasnya jangkauan pemeriksaan kesehatan preventif. Namun, keberhasilan program juga ditentukan oleh kemampuan pemerintah memastikan hasil pemeriksaan ditindaklanjuti melalui edukasi, pengobatan, pemantauan, dan rujukan yang diperlukan.
*Perluasan Akses Harus Diikuti Pemerataan Layanan*
Putih Sari sebelumnya menyoroti pentingnya pemenuhan sarana dan prasarana kesehatan daerah. Ia menyatakan perlunya mendorong Kementerian Kesehatan meninjau kembali kebutuhan fasilitas kesehatan di daerah tersebut.
“Dari capaian program CKG tersebut, kita akan coba dorong kepada Kementerian Kesehatan untuk bisa dilihat kembali pemenuhan sarana-prasarana kesehatan yang ada di daerah terluar dan tertinggal,” kata Putih Sari.
Pernyataan tersebut relevan dengan pelaksanaan CKG yang membutuhkan dukungan fasilitas kesehatan, tenaga medis, dan sistem pelayanan lanjutan. Peningkatan jumlah peserta perlu diimbangi kesiapan fasilitas agar masyarakat di berbagai wilayah memperoleh manfaat yang setara.
“Program Cek Kesehatan Gratis merupakan langkah penting untuk memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Namun, keberhasilannya tidak hanya diukur dari jumlah penduduk yang diperiksa, melainkan juga dari tindak lanjut hasil pemeriksaan, ketersediaan fasilitas kesehatan, dan kemampuan masyarakat memperoleh pengobatan yang dibutuhkan,” tutur anggota dewan dari Dapil Kabupaten Bekasi, Karawang dan Purwakarta ini.
CKG dilaksanakan melalui Puskesmas, kegiatan komunitas, dan sekolah, dengan pemeriksaan yang disesuaikan berdasarkan kelompok usia. Program ini memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatannya tanpa harus menunggu munculnya keluhan.
*Mendukung Agenda MDGs dan SDGs*
Perluasan pemeriksaan kesehatan, menurut Putih Sari, berkaitan dengan agenda pembangunan global. Millennium Development Goals (MDGs), yang berlaku pada 2000–2015, mencakup upaya menurunkan angka kematian ibu dan anak serta memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya.
Setelah periode MDGs berakhir, agenda pembangunan tersebut dilanjutkan melalui Sustainable Development Goals (SDGs) periode 2015–2030. Tujuan 3 SDGs menekankan pentingnya menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua orang pada segala usia.
Meskipun CKG bukan program yang secara khusus dirancang untuk memenuhi seluruh target MDGs, pendekatan pemeriksaan dini mendukung kesinambungan agenda pembangunan kesehatan, terutama dalam pencegahan penyakit dan perluasan akses pelayanan.
“Semangat MDGs dan SDGs mengingatkan kita bahwa pembangunan kesehatan harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat. CKG dapat mendukung tujuan tersebut melalui deteksi dini dan perluasan akses pelayanan, tetapi hasil pemeriksaan juga harus ditindaklanjuti agar masyarakat benar-benar memperoleh manfaat,” tandas politisi dari Partai Gerindra ini.
*Deteksi Dini dan Penanganan Menjadi Kunci*
Pentingnya pemeriksaan dini terlihat dari temuan kasus penyakit yang sebelumnya belum terdeteksi. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa pemeriksaan ulang terhadap 9,2 juta peserta pada Agustus 2026 menemukan sekitar satu juta kasus hipertensi. Pemeriksaan terhadap 8,3 juta peserta juga menemukan sekitar 188 ribu kasus baru diabetes.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang merasa sehat belum tentu bebas dari risiko penyakit. Hipertensi dan diabetes, misalnya, dapat berkembang tanpa gejala yang jelas sehingga pemeriksaan berkala membantu mengenali masalah kesehatan lebih awal.
CKG juga menjangkau anak-anak melalui pemeriksaan di sekolah. Hingga Agustus 2026, sekitar 15,2 juta siswa telah mengikuti program ini. Karies gigi menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak ditemukan, dialami sekitar 40,9 persen siswa yang diperiksa. Selain itu, ditemukan masalah kesehatan lain, termasuk anemia dan obesitas.
Hasil pemeriksaan tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah, sekolah, orang tua, dan tenaga kesehatan untuk memperkuat edukasi, perbaikan gizi, serta pencegahan penyakit pada anak.
Namun, pemeriksaan gratis tidak akan optimal apabila masyarakat yang terindikasi mengalami gangguan kesehatan kesulitan mendapatkan konsultasi, obat, atau rujukan. Karena itu, kesinambungan pelayanan dan integrasi dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) perlu menjadi bagian penting pelaksanaan CKG.
Dengan jangkauan lebih dari 100 juta penduduk, CKG menjadi salah satu upaya pemerintah memperkuat pelayanan kesehatan preventif. Tantangan berikutnya adalah memastikan pemerataan akses, kualitas pemeriksaan, dan tindak lanjut medis agar program benar-benar meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta mendukung pencapaian target pembangunan kesehatan menuju 2030 dan Indonesia Emas 2045.
Catatan redaksi: Kutipan tentang kebutuhan sarana dan prasarana kesehatan merupakan pernyataan Putih Sari yang diberitakan sebelumnya. Sementara itu, dua kutipan khusus mengenai CKG dan MDGs–SDGs masih berupa draf yang harus dikonfirmasi kepada narasumber sebelum diterbitkan sebagai kutipan langsung. (awn)


