MataParlemen.id – Sosok Sholehulhadi kembali menjadi perhatian para anggota. Ketua Koperasi Angkutan Barang Pasar dan Industri (KABAPIN) yang telah memimpin selama dua periode itu mengaku sempat berencana mengakhiri masa kepemimpinannya.
Namun, besarnya dukungan dan kepercayaan anggota membuatnya memutuskan bersedia kembali maju sebagai calon ketua untuk melanjutkan berbagai program yang telah dijalankan selama enam tahun terakhir.
Bagi Sholehulhadi, keputusan itu bukan didorong keinginan mempertahankan jabatan, melainkan untuk menjaga keberlanjutan berbagai program yang telah dijalankan selama enam tahun terakhir.
“Saya sebenarnya tidak ada niat maju lagi. Tetapi karena anggota masih menginginkan saya memimpin, akhirnya saya siap maju kembali demi melanjutkan pelayanan dan memenuhi kebutuhan anggota,” ujarnya saat diwawancarai wartawan, di kantornya, Jl. H. Jenis, No.8, RT 12/1, Kelurahan Rambutan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, belum lama ini.
Perjalanan Sholehulhadi di KABAPIN tidak dimulai dari kursi ketua. Sejak 2015, ia telah aktif sebagai pengurus, diawali sebagai sekretaris pada periode pertama, kemudian menjabat wakil ketua pada periode berikutnya, sebelum akhirnya dipercaya memimpin koperasi pada 2021.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami berbagai persoalan internal, mulai dari pelayanan, administrasi hingga kondisi ekonomi para anggota yang mayoritas berprofesi sebagai pengusaha dan sopir angkutan barang.
Selama memimpin, ia mengklaim fokus membangun tata kelola koperasi yang lebih terbuka. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memberikan pendidikan perkoperasian secara rutin kepada anggota agar mereka memahami hak dan kewajibannya sebagai pemilik koperasi.
Di bawah kepemimpinannya, pelayanan kepada anggota juga diperluas. Menurutnya, seluruh proses administrasi, pinjaman, hingga pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) dilakukan secara lebih transparan dibandingkan sebelumnya.
Ia menyebut perubahan tersebut mulai dirasakan anggota. Bahkan, anggota di Pasar Induk Cipinang kini dapat menerima SHU hingga Rp18 juta sampai Rp25 juta per kelompok sesuai porsi simpanan dan aset di koperasi.
Menurutnya, sebelum kepengurusannya banyak anggota yang tidak mengetahui bahkan tidak pernah merasakan pembagian SHU.Tidak hanya membenahi tata kelola, Sholehulhadi juga mendorong pembangunan fisik koperasi. Dalam enam tahun terakhir, KABAPIN berhasil meninggikan halaman kantor sekitar 60 sentimeter sehingga tidak lagi tergenang banjir saat hujan deras.
Dalam kepengurusannya juga, bisa membangun gedung baru secara bertahap, termasuk gedung dua lantai serta area parkir armada yang kini menjadi fasilitas operasional koperasi.
Perhatian lain yang menjadi fokusnya adalah peremajaan armada anggota. Berbekal pengalaman sebagai sopir angkutan, Sholehulhadi memahami kesulitan anggota dalam mengganti kendaraan akibat keterbatasan modal.
Karena itu, ia mendorong pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai sumber pembiayaan dengan bunga yang lebih ringan serta menyarankan anggota membeli kendaraan bekas berkualitas apabila belum mampu membeli armada baru. Menurutnya, strategi tersebut telah membantu ratusan anggota memperbarui armada usahanya.Selain meningkatkan pelayanan, Sholehulhadi juga mengaku terus berupaya memperkuat fondasi keuangan koperasi.
Menurutnya, koperasi tidak cukup hanya mengandalkan pendapatan rutin, tetapi juga harus mampu mengembangkan berbagai peluang usaha agar tetap sehat dan mandiri.
Menanggapi pertanyaan mengenai kekurangan selama memimpin, Sholehulhadi mengakui dirinya tidak luput dari kesalahan. Namun ia menilai telah berupaya menjalankan amanah sebagai ketua sebaik mungkin.
“Kalau ada yang menilai kekurangan saya, tentu itu hak penilaian orang lain. Saya sendiri merasa sudah bekerja semaksimal mungkin. Sebagai manusia pasti masih ada kekurangan, mungkin hal-hal kecil seperti pernah datang terlambat. Tetapi secara keseluruhan saya berusaha menjalankan amanah ini sebaik-baiknya,” katanya.
Ia mengatakan capaian kepemimpinannya dapat dilihat dari perubahan nyata yang terjadi di KABAPIN, baik dari sisi pelayanan, administrasi, maupun pembangunan fasilitas koperasi. Meski demikian, evaluasi akan terus dilakukan apabila kembali mendapat amanah agar setiap kekurangan dapat diperbaiki.
Sholehulhadi menjelaskan, selama ini pendapatan utama Kabapin berasal dari aktivitas angkutan di Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Induk Beras Cipinang melalui retribusi Surat Perintah Jalan (SPJ). Dari setiap SPJ senilai Rp10.000, KABAPIN memperoleh bagian sekitar Rp3.000. Dengan rata-rata sekitar 500 rit setiap hari dari kedua pasar tersebut, pemasukan koperasi berkisar Rp35 juta hingga Rp40 juta per bulan, ditambah keuntungan dari sejumlah unit usaha lainnya.
Menurutnya, pendapatan tersebut masih belum mampu menutup seluruh kebutuhan operasional koperasi yang mencapai sekitar Rp100 juta setiap bulan. Dana tersebut digunakan untuk membiayai gaji pengurus, karyawan, biaya administrasi, serta kebutuhan operasional organisasi lainnya.
Karena itu, selama enam tahun terakhir pihaknya terus mencari peluang usaha baru agar dana simpanan anggota dapat diputar secara produktif dan menghasilkan keuntungan. Hasil usaha tersebut diprioritaskan untuk memperkuat keuangan koperasi, meningkatkan pelayanan kepada anggota, sekaligus menambah kesejahteraan pengurus, pengawas, dan karyawan.
“Ke depan kami akan terus mencari peluang usaha yang bisa menghasilkan keuntungan lebih besar. Harapannya, kebutuhan operasional koperasi terpenuhi, pelayanan kepada anggota semakin baik, dan KABAPIN tetap maju, sehat secara keuangan, serta mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi seluruh anggota,” ujarnya.
Meski kembali maju sebagai calon ketua, Sholehulhadi menegaskan dirinya tidak pernah menutup ruang regenerasi. Ia bahkan mengaku siap mendukung siapa pun anggota yang dinilai mampu membawa KABAPIN menjadi lebih baik.
“Saya tidak mengejar jabatan. Kalau ada yang siap dan mampu membawa KABAPIN lebih maju, saya akan mendukung sepenuhnya. Tetapi sampai hari ini anggota masih meminta saya melanjutkan kepemimpinan,” tuturnya.
Meski mengakui memimpin koperasi selama dua periode menguras tenaga dan pikiran, Sholehulhadi menilai seluruh kerja keras tersebut terbayar ketika melihat perubahan yang dirasakan anggota.
Baginya, keberhasilan koperasi bukan hanya diukur dari bertambahnya aset dan pembangunan fisik, tetapi juga dari meningkatnya kepercayaan anggota, transparansi pengelolaan, serta kesejahteraan yang menjadi tujuan utama keberadaan KABAPIN. (DA)





