MataParlemen.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menyatakan perekonomian Indonesia masih solid menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Pemerintah belum menyampaikan proyeksi pertumbuhan pada periode tersebut dan memilih menunggu hasil perhitungan resmi BPS.
“Kita menunggu sekarang. Kita menunggu BPS sedang melakukan perhitungan atas pertumbuhan kuartal III. Jadi, kita tunggu saja berapa pertumbuhannya,” kata Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Oktober di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Suahasil mengatakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% pada semester I 2026. Pemerintah menilai capaian tersebut menunjukkan perekonomian nasional masih cukup kuat dalam menghadapi tekanan global.
“Namun, kondisi ekonomi Indonesia solid, pertumbuhannya baik. Semester I 2026 kita tahu tumbuh 5,45%,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai sejumlah risiko eksternal. Risiko tersebut meliputi kenaikan harga minyak, suku bunga global yang berpotensi bertahan tinggi lebih lama, serta penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Suahasil, kenaikan suku bunga global dapat mendorong imbal hasil obligasi meningkat. Sementara itu, penguatan dolar AS perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi pasar keuangan dan perekonomian domestik.
Kenaikan harga minyak dunia juga menjadi perhatian pemerintah. Perubahan harga tersebut berpotensi memengaruhi APBN, baik dari sisi pendapatan maupun belanja negara.
Di tengah tekanan eksternal, sektor manufaktur dalam negeri masih menunjukkan ekspansi. Suahasil mencatat indeks manajer pembelian (purchasing managers’ index/PMI) manufaktur Indonesia berada di level 52,4 pada September 2026.
PMI di atas 50 menandakan aktivitas manufaktur masih berada dalam fase ekspansi. Pemerintah berharap tren tersebut berlanjut sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi nasional.(erc)


