MataParlemen.id-Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta mengatakan, tiga tahun setelah peristiwa pada 7 Oktober 2023, seluruh negara didunia perlu melihat kembali tragedi pembantaian atau genosida di Gaza, Palestina.
Sebab, jangan sampai ada anggapan seolah-olah persoalan Palestina baru di mulai pada 7 Oktober, padahal pembantaian yang dilakukan Zionis Israel terhadap rakyat Palestina sudah berlangsung puluhan tahun.
“Kita perlu melihat kembali tragedi Gaza dalam perspektif yang lebih utuh. Jangan sampai persoalan Palestina seolah-olah baru dimulai pada 7 Oktober.,” kata Sukamta, Rabu (7/10/2026).
Bagi di Indonesia, membicarakan Palestina mulai dari 7 Oktober kurang lebih seperti membicarakan penjajahan Belanda mulai dari pecahnya Perang Diponegoro.
“Kalau sejarah dimulai dari sana, yang terlihat hanya Diponegoro berperang melawan Belanda, sementara kolonialisme yang sudah berlangsung sebelumnya justru hilang dari cerita,” ujarnya.
Politisi PKS ini menegaskan, begitu pula dengan Palestina. Jauh sebelum 7 Oktober sudah ada pendudukan, penguasaan tanah, perluasan permukiman, pengungsian, blokade Gaza dan berbagai pembatasan terhadap kehidupan rakyat Palestina.
“Karena itu jangan sampai kita membalik sebab dan akibat. Penderitaan rakyat Palestina tidak boleh justru ditimpakan kepada perjuangan mereka untuk memperoleh kemerdekaan,” katanya.
“Kita tentu tidak mengatakan penderitaan rakyat Jawa akibat kolonialisme terjadi karena Diponegoro memilih melawan Belanda. Masalah pokoknya adalah kolonialisme itu sendiri,” sambungnya.
Demikian juga Palestina. Setiap tindakan dalam sebuah konflik tetap harus dinilai berdasarkan hukum dan kemanusiaan.
“Tetapi perdebatan mengenai cara melakukan perlawanan jangan sampai menghapus persoalan yang melahirkan perlawanan itu sendiri,” katanya.
Tiga tahun setelah 7 Oktober, dunia juga harus melihat apa yang terjadi sesudahnya. Gaza mengalami kehancuran luar biasa.
Begitu banyak manusia kehilangan nyawa, keluarga dan tempat tinggal. Rumah, sekolah, rumah sakit dan berbagai sarana kehidupan masyarakat hancur.
Sekarang Gaza harus dibangun kembali. Tetapi rekonstruksi tidak boleh menggantikan penyelesaian persoalan Palestina.
“Jangan sampai Gaza dibangun kembali, tetapi Palestina justru hilang,” tandasnya.
Ia meminta dunia waspada terhadap upaya rehabilitasi citra dan normalisasi yang perlahan membuat dunia melupakan apa yang telah terjadi.
Sebab, jngan sampai normalisasi berjalan lebih cepat daripada pertanggungjawaban. “Gaza boleh dibangun kembali, tetapi tragedinya tidak boleh dihapus dari ingatan dunia,” katanya.
Sukamta berharap Indonesia harus tetap konsisten mendorong bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi Gaza, sekaligus memastikan semuanya menuju penyelesaian yang sebenarnya: berakhirnya pendudukan dan terwujudnya Palestina yang merdeka dan berdaulat.
“Tiga tahun setelah 7 Oktober, yang kita perlukan bukan memotong sejarah Palestina pada satu hari, tetapi melihat persoalannya secara utuh dan memastikan tujuan akhirnya tidak hilang: kemerdekaan Palestina,” pungkasnya. (awn)


