Close Menu
MataParlemenMataParlemen
  • Peristiwa
  • Hukum
  • DPR
  • MPR
  • DPD
Populer Hari Ini

DPR Tegaskan Perlu Label Batas Konsumsi MBG Serta Perkuat Pengawasan Dapur

Agustus 12, 2026

Kawendra Kecam Keras Promosi Miras “Newport” Dengan Ayat Al-Qur’an

Agustus 11, 2026

Hadiri P5HAM di Medan, Maruli Siahaan Komisi XIII DPR Ingatkan Penghormatan HAM Harus Dimulai dari Kehidupan Sehari-hari

Agustus 3, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
MataParlemenMataParlemen
Login
  • Peristiwa
  • Hukum
  • DPR
  • MPR
  • DPD
MataParlemenMataParlemen
Home » Azis Subekti Tegaskan Tantangan BI Di Era Pemerintahan Prabowo Bukan Sekedar Rupiah Kuat
DPR

Azis Subekti Tegaskan Tantangan BI Di Era Pemerintahan Prabowo Bukan Sekedar Rupiah Kuat

RedaksiBy RedaksiAgustus 1, 2026
Share Facebook Twitter Pinterest Copy Link LinkedIn Tumblr Email Telegram WhatsApp
Follow Us
Google News Flipboard
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

MataParlemen.id – Momen pergantian Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai harus menjadi titik balik pergeseran paradigma moneter nasional. Bank sentral di era modern dituntut tidak hanya berfokus menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, tetapi juga bertransformasi menjadi penjaga produktivitas bangsa.

Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, menyampaikan bahwa penetapan kepemimpinan baru di BI bukan sekadar pergantian pejabat rutin, melainkan menentukan arah integrasi antara stabilitas ekonomi dan target Indonesia menjadi negara maju.

“Karena itu, penunjukan Gubernur Bank Indonesia yang baru tidak boleh dipahami sekadar sebagai pergantian seorang pejabat,” kata Azis pada Kamis (30/7/2026).

“Yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan bukan hanya arah kebijakan moneter lima tahun ke depan, melainkan cara Indonesia memandang hubungan antara stabilitas ekonomi dan cita-cita menjadi negara maju,” tambahnya.

Azis memandang bahwa selama ini stabilitas sering ditempatkan sebagai tujuan akhir kebijakan moneter. Padahal, bagi negara yang sedang bertransformasi seperti Indonesia, stabilitas seharusnya dipahami sebagai prasyarat untuk melahirkan produktivitas yang lebih tinggi.

“Bagi negara yang pernah mengalami hiperinflasi maupun krisis moneter, stabilitas adalah syarat pertama agar perekonomian dapat berdiri kembali,” ujarnya.

Azis juga menjelaskan bahwa pengalaman Krisis 1998 telah membentuk paradigma benteng stabilitas yang terbukti berhasil menjaga kredibilitas BI di tingkat regional.

“Krisis 1998 mengajarkan betapa rapuhnya sebuah negara ketika kepercayaan terhadap mata uang runtuh. Dari pengalaman tersebut lahirlah paradigma bahwa bank sentral harus menjadi benteng terakhir yang menjaga stabilitas ekonomi,” kata Azis.

Namun, tantangan global saat ini seperti fragmentasi geopolitik, perang dagang, transisi energi, hingga disrupsi kecerdasan artifisial (AI) menuntut pendekatan baru.

Karena itu, di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, agenda transformasi seperti swasembada pangan, hilirisasi industri, ketahanan energi, hingga pengembangan AI membutuhkan ruang pertumbuhan yang solid dari sektor moneter.

“Seluruhnya merupakan bagian dari ikhtiar membangun fondasi ekonomi yang lebih mandiri, lebih produktif, dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi,” ujar Azis.

Untuk itu, menurut Azis yang juga Pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia (PSMPI), keberhasilan bank sentral di abad ke-21 tidak cukup diukur dari rendahnya inflasi atau besarnya cadangan devisa.

Namun, sejauh mana kebijakan moneter memberi ruang bagi pertumbuhan investasi produktif, penguatan industri bernilai tambah tinggi, dan peningkatan daya saing nasional serta penciptaan lapangan kerja berkualitas.

“Negara tidak menjadi maju hanya karena mata uangnya stabil. Negara menjadi maju karena stabilitas berhasil diubah menjadi investasi, investasi melahirkan inovasi, dan inovasi meningkatkan produktivitas yang menciptakan kemakmuran,” pungkasnya.(erc)

Follow on Google News Follow on Flipboard
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Copy Link
Redaksi

Related Posts

Anggota Komisi I DPR Iman Sukri Meminta Pemerintah Terbitkan Travel Warning Ke Timur Tengah

Agustus 12, 2026

DPR Tegaskan Perlu Label Batas Konsumsi MBG Serta Perkuat Pengawasan Dapur

Agustus 12, 2026

Sahroni Minta Polri Usut Dalang Di Balik Industri Penyebaran Hoaks Di Medsos

Agustus 11, 2026
Berita Terkini

Anggota Komisi I DPR Iman Sukri Meminta Pemerintah Terbitkan Travel Warning Ke Timur Tengah

Agustus 12, 20260 Views

Pemerintah Kembali Buka Program Magang Nasional 2026, Kuota 150 Ribu Peserta

Agustus 12, 20261 Views

DPR Tegaskan Perlu Label Batas Konsumsi MBG Serta Perkuat Pengawasan Dapur

Agustus 12, 20262 Views

Sukses China Bangun Wilayah Jadi Inspirasi Kembangkan Kawasan Transmigrasi di Indonesia

Agustus 11, 20260 Views

Sahroni Minta Polri Usut Dalang Di Balik Industri Penyebaran Hoaks Di Medsos

Agustus 11, 20261 Views

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Berita Terpopuler

Mulyadi: Keterbatasan Anggaran Jangan Hentikan Perjuangan Pemekaran Bogor Timur

Agustus 10, 202632 Views

Sejumlah Tokoh Dorong Sejarah Perjuangan Pendirian Kabupaten Kepulauan Meranti Dibukukan

Agustus 8, 202612 Views

KWP Minta Anggota DPR Deddy Sitorus Minta Maaf Atas Pernyataan Diduga Menghina Profesi Wartawan 1X24 Jam

Juli 30, 20268 Views
Pilihan Editor

Anggota Komisi I DPR Iman Sukri Meminta Pemerintah Terbitkan Travel Warning Ke Timur Tengah

Agustus 12, 2026

Pemerintah Kembali Buka Program Magang Nasional 2026, Kuota 150 Ribu Peserta

Agustus 12, 2026

DPR Tegaskan Perlu Label Batas Konsumsi MBG Serta Perkuat Pengawasan Dapur

Agustus 12, 2026

Subscribe to Updates

Dapatkan berita terkini dan eksklusif langsung ke email Anda, setiap harinya!

Facebook X (Twitter) Instagram
  • Home
  • About us
  • Redaksi
© 2026 MataParlemen.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?