MataParlemen.id- Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) MPR RI, Ir. H. Tifatul Sembiring, mengajukan konsep “Ekonomi Utara” sebagai strategi baru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Penegasan disampaikan Tifatul saat menghadiri acara Lokakarya Akademik Fraksi PKS MPR RI Tahun 2026 dengan mengusung tema “Membedah Potensi Ekonomi Karimun Kepulauan Riau”, di Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (13/6/2026).
Dalam kegiatan ini tampak hadir Presiden PKS, Dr. H. Al Muzzammil Yusuf, M.Si., Ketua Fraksi PKS MPR RI, serta beberapa anggota DPR RI, yaitu Dr. Ir. H. A. Junaidi Auly, M.M., H. Johan Rosihan, S.T., M.H., CPM., dan Saadiyah Uluputty, S.T.
Acara dimeriahkan dengan kehadiran Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), H. Ansar Ahmad, S.E., M.M., Wakil Ketua DPRD Kepri, H. Bakhtiar, Lc., M.A., para narasumber lokakarya yaitu Bupati Karimun, H. Ing. Iskandarsyah, Kepala Bidang Perhubungan Laut Pemprov Kepulauan Riau, Dr. Ir. H. Azis Kasim Djou, S.T., M.H., Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Karimun, Drs. H. Agusnawarman, M.Si., serta para peserta lokakarya dari perwakilan kepala daerah se-kabupaten/kota di Kepri, akademisi, pelaku usaha, tokoh agama, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Mengutip laman resmi MPR RI, Tifatul Sembiring menjelaskan konsep peluang Ekonomi Utara. Menurutnya, selama ini perhatian pemerintah masih terlalu dominan bertumpu pada kawasan selatan.
Padahal, jika ekonomi Indonesia ingin maju, maka kawasan utara harus digarap lebih serius.
Menurut Tifatul, berdasarkan data Biro Statistik Nasional (NBS) China tahun 2025 bahwa PDB China mencapai US$19,6 triliun, India menurut IMF sebesar US$4,13 triliun, Jepang US$4,38 triliun, dan Korea Selatan US$1,86 triliun. Cadangan devisa China menurut Trading Economics per Desember 2025 mencapai US$3,358 triliun.
Karena itu, Tifatul memandang Indonesia tidak boleh hanya melihat ke kawasan selatan saja. Menurutnya, jika Indonesia ingin maju dari sisi ekonomi, maka peluang potensi Ekonomi Utara harus digarap bersama, termasuk dari sisi pariwisata, perdagangan, dan jasa.
Wilayah Bagian Utara Indonesia
Ia menyebut sejumlah wilayah yang dapat menjadi bagian penting dari pengembangan Ekonomi Utara, antara lain Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Papua. Wilayah-wilayah tersebut berhadapan langsung dengan negara-negara yang memiliki total penduduk lebih dari 3 miliar jiwa.
Tifatul juga mencatat bahwa Karimun, Kepulauan Riau, memiliki posisi strategis karena berdekatan dengan Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran terpadat di dunia.
Menurutnya, lebih dari 95 persen kapal yang melintas dari Samudra Pasifik ke Atlantik maupun sebaliknya melewati jalur penting ini. Selama ini, Singapura dinilai paling banyak mengambil manfaat ekonomi dari arus kapal yang melintasi Selat Malaka.
“Di sini ada Selat Malaka yang sangat strategis. Selama ini Singapura yang mengambil keuntungan lebih banyak dari kapal-kapal yang lewat. Arus peti kemas Singapura pada 2024 saja mencapai 41,12 juta TEU dalam satu tahun, karena Selat Hormuz ditutup, maka sekarang naik lagi ke 65 juta TEU,” jelasnya.
Jika dibandingkan dengan Pelabuhan Batu Ampar, Batam, maka angkanya masih berada di bawah 1 juta TEU per tahun.
“Bandingkan dengan Batu Ampar di Batam yang hanya sekitar 797 ribu TEU setahun, belum sampai 1 juta TEU. Mereka berlipat-lipat. Padahal Singapura negaranya kecil, tetapi bisa memanfaatkan jalur strategis ini,” ujarnya.
Karimun Bisa Menjadi Pusat Pertumbuhan Baru
Menurut Tifatul, apabila koneksi transportasi di wilayah utara Indonesia dibangun, niscaya orang akan lebih tertarik datang ke wilayah tersebut. Terlebih, daerah-daerah utara Indonesia juga memiliki keindahan alam yang tidak kalah dengan Bali.
“Kalau koneksi transportasinya bagus, tentu orang akan berbondong-bondong datang. Dari sisi keindahan alam, daerah-daerah utara tidak kalah cantik. Ada Danau Toba, ada Sabang, pantai-pantai di Aceh seperti Lhoknga, Danau Singkarak, Danau Maninjau, Bunaken, Raja Ampat, dan Maluku Utara,” katanya.
Sementara Kepulauan Riau berada pada posisi pintu gerbang utara Indonesia. Batam hanya berjarak sekitar 40 menit dari Singapura, sementara Karimun juga berada dekat dengan Selat Malaka dan memiliki peluang untuk mengambil peran dalam pelayanan sektor peti kemas, jasa pelabuhan, maupun pengisian bahan bakar kapal.
“Kepulauan Riau ini pintu gerbang utara. Batam hanya sekitar 40 menit dari Singapura. Di sampingnya ada Karimun yang juga strategis dan lebih dekat ke Selat Malaka. Karimun bisa mengambil bagian, misalnya untuk peti kemas atau pengisian bahan bakar kapal-kapal yang melintas,” tegas Tifatul. (ira)


