MataParlemen.id-Proklamasi kemerdekaan selalu menjadi tonggak sejarah yang menentukan arah perjalanan sebuah bangsa. China memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1 Oktober 1949, sementara Indonesia lebih dulu memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Namun, perjalanan kedua bangsa ini menunjukkan kontras yang tajam: Cina melesat menjadi kekuatan ekonomi dunia, sementara Indonesia masih berjuang keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.
China berhasil membuktikan bahwa ideologi politik yang tegas, dipadukan dengan pragmatisme ekonomi, dapat melahirkan transformasi besar.
Reformasi Deng Xiaoping sejak 1978 membuka pintu bagi investasi asing, mengubah China dari ekonomi tertutup menjadi “pabrik dunia”, dan kini menjadi pusat inovasi teknologi.
Baca juga:
Stabilitas politik, fokus pada pendidikan, serta keberanian berinvestasi dalam infrastruktur menjadikan hCina bukan sekadar negara besar, tetapi juga negara maju dengan pengaruh global.
Indonesia, meski lebih dulu merdeka, masih menghadapi hambatan klasik: kualitas SDM yang belum optimal, korupsi yang menggerogoti institusi, serta ketergantungan pada ekspor komoditas mentah.
Infrastruktur yang timpang dan dominasi sektor informal membuat produktivitas nasional tidak mampu bersaing dengan negara-negara yang lebih terintegrasi dalam rantai nilai global. Akibatnya, Indonesia belum mampu melompat ke tahap industrialisasi bernilai tambah tinggi.
Perbandingan ini bukan untuk merendahkan Indonesia, melainkan sebagai refleksi kritis. Indonesia memiliki modal besar: populasi muda, kekayaan alam, serta posisi strategis di jalur perdagangan dunia.
Namun, modal itu tidak akan berarti tanpa keberanian melakukan reformasi struktural. Hilirisasi industri, pemberantasan korupsi, dan investasi serius pada pendidikan adalah kunci agar Indonesia tidak sekadar menjadi “pasar besar”, tetapi juga produsen bernilai tinggi.
China menunjukkan bahwa sebuah bangsa bisa bangkit dari perang saudara dan kemiskinan ekstrem menuju kejayaan global dalam waktu kurang dari satu abad.
Indonesia, dengan usia kemerdekaan yang lebih panjang, seharusnya mampu menyalip jika berani mengambil langkah radikal.
Target Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan, melainkan ujian apakah bangsa ini mampu keluar dari jebakan sejarah dan menulis babak baru sebagai negara maju.
Kesimpulan
Kemerdekaan bukan hanya soal tanggal proklamasi, melainkan bagaimana bangsa mengelola kedaulatan untuk kesejahteraan rakyat.
China memilih disiplin, konsistensi, dan keberanian beradaptasi. Indonesia harus belajar dari itu—bukan untuk meniru, tetapi untuk menemukan jalannya sendiri menuju kemajuan.
Erwin Syahputra Siregar, Wakil Ketua Koordinator Wartawan Parlemen (KWP)


