MataParlemen.id – Tim SAR gabungan membuka kemungkinan lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda terbawa arus menuju Samudra Hindia. Kemungkinan tersebut menjadi salah satu area yang diperhitungkan dalam pencarian hari kelima, Sabtu (12/9/2026).
Komandan KP Sanjaya, AKBP Capt Sherly Anggraini, mengatakan kemungkinan itu masih terbuka dengan mempertimbangkan kondisi arus dan angin di perairan Selat Sunda.
“Iya, kemungkinan itu ada. Jadi memang kalau kita lihat pergerakan arus dan anginnya, itu kan keluar dan ke arah masuk area perairan itu atau tidak. Nah, kemungkinan itu juga ada,” ujar Sherly saat ditemui wartawan di tengah operasi pencarian, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Sherly, apabila speedboat yang membawa delapan orang tersebut terdorong mengikuti arus keluar dari Selat Sunda, tim SAR perlu memperhitungkan wilayah pencarian yang lebih luas, termasuk kemungkinan mengarah ke Samudra Hindia.
Meski demikian, tim SAR masih berharap keberadaan speedboat tersebut dapat diketahui melalui kapal-kapal yang melintas di jalur pelayaran.
Sherly mengatakan informasi mengenai hilangnya speedboat telah disebarluaskan melalui radio maritim kepada kapal-kapal niaga yang melintas di sekitar perairan Selat Sunda.
“Harusnya akan ditemukan oleh kapal-kapal niaga karena informasi ini juga disebarkan melalui radio maritim kepada kapal-kapal yang melintas, kalau ada kapal melihat kapal tersebut di sekitar perairan,” katanya.
Di sisi lain, pencarian menjadi lebih sulit apabila speedboat Arupadhatu 1 tidak memiliki perangkat pelacak atau pemancar sinyal darurat.
Sherly mengatakan untuk pelayaran jarak jauh, kapal semestinya dilengkapi perangkat navigasi dan keselamatan yang memadai. Namun, pihaknya belum dapat memastikan kelengkapan alat keselamatan pada speedboat yang membawa lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut.
“Harusnya kalau sudah perjalanan jarak jauh, kemungkinan GPS mereka pasti dilengkapi dengan GPS. Tapi untuk alat pemosisian pada saat keadaan darurat itu mungkin tidak ada,” ujarnya.
Menurut Sherly, terdapat sejumlah perangkat yang dapat membantu tim SAR menentukan posisi kapal dalam keadaan darurat, di antaranya Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) dan Search and Rescue Transponder (SART).
EPIRB berfungsi mengirimkan sinyal darurat yang dapat membantu menunjukkan posisi kapal. Sementara itu, SART dapat membantu tim pencari mendeteksi keberadaan objek dalam operasi pencarian.
“Harusnya sesuai standar keselamatan pelayaran itu harus ada. Tapi tidak tahu untuk kapal Arupadhatu ini punya atau tidak untuk kelengkapan itu seperti SART atau EPIRB untuk pemosisian ketika kita dalam keadaan darurat,” kata Sherly.
Jika perangkat tersebut tidak tersedia atau tidak berfungsi, pencarian terhadap delapan orang yang hilang akan lebih bergantung pada penyisiran langsung di wilayah yang diperkirakan menjadi lokasi keberadaan mereka.
“Kalau tidak dilengkapi, agak sedikit sulit kita mencari. Jadi seperti ini kita turunkan tim untuk mencari, mencoba mencari di kemungkinan-kemungkinan daerah, apakah di sekitar kepulauan ataupun di perairan di sekitarnya,” tuturnya.
Memasuki hari kelima, tim SAR gabungan kembali memperluas pencarian dengan mengerahkan 14 armada dan berbagai perangkat pendeteksi, termasuk drone dan kamera termal.
Namun, hingga pencarian berlangsung, belum ditemukan tanda-tanda yang dapat memastikan keberadaan lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut.
Sherly mengatakan tim masih berharap operasi pencarian membuahkan hasil meski telah memasuki hari kelima.
“Kita masih berbaik sangka walaupun ini sudah hari kelima. Mudah-mudahan di hari-hari selanjutnya mendapatkan kabar baik,” katanya.
Sebelumnya, lima jurnalis dan tiga awak kapal dilaporkan hilang kontak setelah berangkat menggunakan speedboat dari wilayah Carita, Pandeglang, untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda pada Senin (7/9/2026).
Delapan orang tersebut terdiri dari lima jurnalis, yakni M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudistiro, Daus, dan Donal. Sementara tiga awak kapal adalah Warta, Surakman, dan Heriyanto. Hingga Sabtu (12/9/2026), keberadaan mereka masih belum diketahui. (erc)




