MataParlemen.id- Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakya (MPR) RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengatakan transformasi digital merupakan salah satu faktor penentu bagi Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.
Namun, berbagai tantangan masih harus dihadapi, terutama kesenjangan akses dan kualitas layanan digital di berbagai wilayah Indonesia.
Penegasan disampaikan Ibas saat menghadiri diskusi publik bertajuk “Smart Indonesia: Akselerasi Transformasi Digital Nasional Melalui Inovasi Infrastruktur Telekomunikasi” di Kompleks Gedung MPR RI, Kamis (11/6/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri para pakar telekomunikasi dan digital, akademisi, pelaku industri teknologi, organisasi profesi, serta komunitas digital dari berbagai daerah.
“Tantangan bagi kita adalah bagaimana kita bisa menjadi ekonomi terbesar se-Asia Tenggara. Kesenjangan digital sebagai tantangan bangsa ini masih terlihat. Kita ingin adanya akses internet yang berkualitas yang dapat dinikmati secara nyata agar literasi digital ini benar-benar terwujud,” kata Ibas mengutip laman resmi MPR RI.
Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VII tersebut menjelaskan pembangunan infrastruktur telekomunikasi harus dipandang sebagai investasi strategis jangka panjang.
Menurutnya, jaringan komunikasi digital saat ini memiliki peran yang sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur fisik dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Iapun menekankan Indonesia harus mampu menjadi pemain utama dalam transformasi digital dunia melalui penguatan infrastruktur telekomunikasi, kedaulatan data, keamanan siber, pengembangan talenta digital, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri.
Strategi ini dilakukan agar bangsa Indonesia bukan hanya sekedar menjadi pasar bagi perkembangan teknologi global.
Lebih jauh Ibas menekankan pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Karena dapat memperkuat transformasi digital nasional.
“Infrastruktur telekomunikasi adalah tulang punggung komunikasi digital. Setiap menara BTS yang kita bangun, setiap kilometer serat optik yang kita gelar, merupakan investasi penting untuk mendukung transformasi digital Indonesia,” ucap Ibas yang juga merangkap Ketua Fraksi Partai Demokrat MPR RI.
Lebih jauh, Ibas juga mengingatkan agar perkembangan teknologi harus diimbangi dengan regulasi dan tata kelola yang mampu melindungi kepentingan nasional.
“Tantangan berikutnya adalah bagaimana kita mengantisipasi kemampuan pihak-pihak yang semakin ahli dan mapan dalam melakukan serangan siber. Ancaman ini nyata dan serius. Karena itu, perlindungan data pribadi dan implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Tantangan selanjutnya adalah Indonesia harus mengambil posisi strategis dalam pengembangan teknologi masa depan, utamanya kecerdasan buatan (AI) dan pengelolaan data nasional.
“Masa depan 5G dan persiapan menuju 6G harus kita siapkan dari sekarang. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar, tetapi harus menjadi bagian penting dari ekosistem digital global. Kampus, industri, dan pemerintah harus bekerja sama dalam riset dan penerapannya agar masa depan yang kita cita-citakan dapat benar-benar terwujud,” jelas Wakil Ketua Umum Partai Demokrat tersebut.
Menurut Ibas, kecerdasan buatan juga dapat menjadi instrumen penting untuk mempercepat reformasi birokrasi dan pelayanan publik yang lebih efektif. Namun demikian, penerapannya harus tetap menjunjung prinsip akuntabilitas dan kepentingan masyarakat.
“AI dapat membantu menghadirkan layanan publik yang lebih cepat, lebih murah, lebih transparan, dan tetap akuntabel. Di saat yang sama, kita juga harus memperkuat kedaulatan data dan siber nasional melalui tata kelola yang kuat serta regulasi yang mampu menjaga kepentingan bangsa,” ujarnya. (ira)




