MataParlemen.id – Anggota Komisi IV DPR RI Rina Saadah, mengapresiasi kebijakan pemerintah yang menurunkan harga pupuk hingga 20 persen. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah penting untuk mendukung peningkatan produktivitas dan produksi pertanian
“Kami mengapresiasi kinerja Presiden Prabowo Subianto yang berhasil menurunkan harga pupuk hingga 20 persen. Ini merupakan langkah penting karena pupuk menjadi salah satu instrumen utama dalam meningkatkan produktivitas dan produksi pertanian,” ujar Rina, pada Sabtu (15/8/2026).
Meski demikian, Rina menekankan agar penurunan harga pupuk benar-benar dirasakan petani di lapangan, bukan hanya menjadi capaian dalam kebijakan pemerintah.
Menurut legislator Fraksi PKB itu, pupuk merupakan salah satu komponen penting dalam biaya produksi pertanian.
Sebab itu, penurunan harga tersebut harus mampu dirasakan langsung manfaatnya oleh petani.
“Harga pupuk yang turun tentu menjadi kabar baik bagi petani. Karena itu, penurunan harga harus benar-benar dirasakan petani, bukan hanya tercatat dalam kebijakan pemerintah,” katanya.
Selain soal harga, Rina menyoroti penyederhanaan hingga 143 regulasi terkait penyaluran pupuk.
Ia menilai penyederhanaan regulasi tersebut dapat mengatasi persoalan distribusi pupuk yang selama ini dinilai berbelit dan lambat.
“Dulu persoalan pupuk bukan hanya soal harga, tetapi juga ketersediaannya. Sekarang dengan penyederhanaan regulasi, pupuk diharapkan bisa lebih cepat turun dan diterima langsung oleh petani,” jelasnya.
Legislator asal Jawa Barat itu mengatakan, bahwa pihaknya akan terus mengawal pelaksanaan kebijakan tersebut melalui kunjungan kerja dan masa reses.
Pengawasan juga akan dilakukan dengan berdialog langsung dengan petani di berbagai daerah.
Selain memastikan ketersediaan dan harga pupuk, Komisi IV DPR kata Rina, juga akan mengawasi harga pembelian hasil produksi petani agar sejalan dengan kebijakan pemerintah.
“Kami ingin memastikan pupuk benar-benar tersedia dan bisa diperoleh petani dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah. Jangan sampai produksi meningkat, tetapi kesejahteraan petani tidak ikut meningkat,” tuturnya.(erc)




