MataParlemen.id – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) optimistis Indonesia dapat mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada 2027 melalui kebijakan fiskal yang terukur. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diarahkan tidak hanya untuk meredam gejolak ekonomi, tetapi juga mendorong investasi, konsumsi masyarakat, dan aktivitas dunia usaha.
Direktur Strategi APBN Kemenkeu, Wahyu Utomo mengatakan pemerintah tetap mencermati berbagai risiko ekonomi global, termasuk arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, pergerakan harga energi, dan dinamika perdagangan dunia
“Waspada harus, panik jangan. Tetap optimistis, tetapi optimismenya harus realistis,” ujar Wahyu. dalam Katadata Policy Dialogue bertajuk “Outlook Ekonomi 2027” di Jakarta, Selasa (20/10/2026)..
Menurut dia, ketidakpastian global masih menjadi tantangan bagi banyak negara. Karena itu, pemerintah perlu menjaga optimisme terhadap prospek ekonomi nasional sekaligus memastikan kebijakan yang diambil mempertimbangkan risiko yang dapat memengaruhi pertumbuhan.
“Pemerintah mengarahkan APBN untuk menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni menjaga stabilitas ekonomi ketika terjadi gejolak dan mendorong pertumbuhan melalui peningkatan aktivitas ekonomi domestik,” jelasnya.
Dalam upaya mengejar target pertumbuhan 6% pada 2027, kebijakan fiskal diharapkan mendukung investasi, menjaga daya beli masyarakat, serta menciptakan kondisi yang kondusif bagi dunia usaha.
Pendekatan tersebut menjadi penting di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dapat memengaruhi perdagangan, harga komoditas, dan keputusan investasi.
Meski demikian, pencapaian target pertumbuhan tetap bergantung pada perkembangan berbagai indikator ekonomi serta efektivitas pelaksanaan kebijakan pemerintah.
“Optimisme perlu disertai kewaspadaan terhadap risiko. Dengan pengelolaan fiskal yang terukur, pemerintah berharap APBN dapat mendukung ketahanan ekonomi sekaligus memperkuat momentum pertumbuhan pada 2027,” tutupnya.(hsu)


