Close Menu
MataParlemenMataParlemen
  • Peristiwa
  • Hukum
  • DPR
  • MPR
  • DPD
Populer Hari Ini

Pratikno : Wantimpres Diisi Tokoh-Tokoh Nasional Berpengalaman

Oktober 3, 2026

Ariawan Titip Pesan ke KWP: Jaga Persatuan, Rawat Soliditas

Oktober 2, 2026

Kemendagri Perkuat Koordinasi dengan Pemda Percepat Implementasi Wajib Halal

September 23, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
MataParlemenMataParlemen
Login
  • Peristiwa
  • Hukum
  • DPR
  • MPR
  • DPD
MataParlemenMataParlemen
Home » Pemerintah Harus Bongkar Rantai Distribusi, Stok Beras Tinggi Harga Naik
MPR

Pemerintah Harus Bongkar Rantai Distribusi, Stok Beras Tinggi Harga Naik

RedaksiBy RedaksiSeptember 10, 2026
Share Facebook Twitter Pinterest Copy Link LinkedIn Tumblr Email Telegram WhatsApp
Follow Us
Google News Flipboard
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

MataParlemen.id – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Johan Rosihan, menyoroti fenomena kenaikan harga beras di tengah klaim pemerintah mengenai tingginya produksi dan cadangan beras nasional. Menurut Johan, kondisi tersebut menunjukkan persoalan pangan nasional tidak lagi cukup dilihat dari besarnya stok, tetapi harus ditelusuri hingga struktur pasokan, penggilingan, dan distribusi beras sampai ke konsumen.

“Kalau stok beras kita disebut sangat tinggi dan produksi nasional mencukupi, tetapi harga yang dibayar masyarakat justru terus naik, berarti ada mata rantai pasar yang harus kita bongkar. Stok yang tinggi tidak otomatis berarti pasokan di pasar longgar dan harga terjangkau,” kata Johan di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Johan merujuk perkembangan harga beras yang menunjukkan tekanan sudah terjadi sejak tingkat penggilingan. Kondisi tersebut, menurutnya, penting dicermati karena kenaikan harga di hulu akan ditransmisikan sepanjang rantai perdagangan hingga akhirnya ditanggung konsumen.

Ia mengatakan pemerintah perlu membedakan secara jelas antara produksi, stok fisik, dan pasokan yang benar-benar tersedia di pasar. Menurut Johan, ketiga hal tersebut tidak dapat begitu saja diperlakukan sebagai indikator yang sama.

“Standing crop misalnya, jangan serta-merta dipersepsikan sama dengan beras yang sudah berada di gudang dan siap didistribusikan. Begitu pula stok yang berada di Bulog, rumah tangga maupun pelaku usaha. Yang dibutuhkan rakyat adalah beras yang tersedia di tempat dan waktu yang tepat dengan harga yang terjangkau,” ujarnya.

Politikus PKS tersebut juga menyoroti persaingan memperoleh gabah setelah berakhirnya periode puncak panen. Ketika pasokan gabah mulai berkurang sementara Bulog tetap melakukan penyerapan, penggilingan swasta harus bersaing mendapatkan bahan baku. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga gabah dan biaya produksi beras.

Meski demikian, Johan menegaskan solusi atas persoalan tersebut bukan dengan melemahkan harga gabah di tingkat petani. Kebijakan harga pembelian pemerintah tetap diperlukan untuk memastikan petani memperoleh harga yang layak.

“Jangan kemudian petani yang dikorbankan untuk mendapatkan beras murah. Negara harus mampu menjaga dua kepentingan sekaligus: gabah petani harus dihargai secara layak, tetapi beras juga harus sampai kepada konsumen dengan harga terjangkau. Di situlah fungsi kebijakan pangan pemerintah,” tegasnya.

Karena itu, Johan meminta pemerintah dan Bulog membuka neraca beras secara lebih rinci, bukan hanya menyampaikan angka agregat stok nasional. Data tersebut, menurutnya, perlu menunjukkan di mana stok berada, siapa yang menguasainya, kualitasnya, berapa yang siap dilepas ke pasar, serta bagaimana distribusinya antarwilayah.

Ia juga meminta pemerintah memetakan pembentukan harga mulai dari petani, pengumpul, penggilingan, distributor, grosir, pengecer hingga konsumen. Dengan demikian dapat diketahui pada mata rantai mana kenaikan harga dan margin terbesar terjadi.

“Jangan sampai kita merasa aman karena gudang penuh, sementara rakyat membeli beras semakin mahal. Ukuran keberhasilan kebijakan pangan bukan sekadar berapa juta ton yang kita miliki, tetapi apakah beras itu berada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, dan sampai kepada rakyat dengan harga yang tepat,” pungkas Johan.(erc)

Follow on Google News Follow on Flipboard
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Copy Link
Redaksi

Related Posts

Bamsoet: Ekonomi Kuat, Dunia Usaha Aman dan Pertahanan Mandiri Jadi Kunci Kedaulatan Nasional

Oktober 1, 2026

Ariawan: MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

September 27, 2026

Resmikan Mess MPR di Bandung, Muzani: Bangunan Cagar Budaya Kembali ke Bentuk Aslinya

September 27, 2026
Berita Terkini

Pratikno : Wantimpres Diisi Tokoh-Tokoh Nasional Berpengalaman

Oktober 3, 20261 Views

Golkar Usul Pemisahan Pilpres Dan Pileg Dalam RUU Pemilu

Oktober 2, 20260 Views

KPK Panggil 4 Saksi Swasta Kasus Korupsi ATR/BPN

Oktober 2, 20260 Views

Ariawan Titip Pesan ke KWP: Jaga Persatuan, Rawat Soliditas

Oktober 2, 20263 Views

Presiden Prabowo Lantik Syahganda Nainggolan Sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah

Oktober 2, 20260 Views

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Berita Terpopuler

Tawarkan 3 Solusi Strategis untuk Papua, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta Kecam Narasi Bias Pidato PM Kepulauan Solomon di PBB

September 26, 20265 Views

Gus Kikin : JK Dan Gus Baha Masuk Kepengurusan NU 2026-2031

September 30, 20264 Views

Ariawan: MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

September 27, 20264 Views
Pilihan Editor

Pratikno : Wantimpres Diisi Tokoh-Tokoh Nasional Berpengalaman

Oktober 3, 2026

Golkar Usul Pemisahan Pilpres Dan Pileg Dalam RUU Pemilu

Oktober 2, 2026

KPK Panggil 4 Saksi Swasta Kasus Korupsi ATR/BPN

Oktober 2, 2026

Subscribe to Updates

Dapatkan berita terkini dan eksklusif langsung ke email Anda, setiap harinya!

Facebook X (Twitter) Instagram
  • Redaksi
© 2026 MataParlemen.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?