MataParlemen.id-Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjamin tak ada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM)  bersubsidi hingga akhir 2026.

Sebab, Isu kenaikan harga BBM imbas konflik di Timur Tengah, membuat masyarakat khawatir. Namun, dia tak memberi kepastian pada BBM nonsubsidi.

Penegasan Menkeu Purbaya, itu disampaikan dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, di Senayan Jakarta, Senin 6 April 2026.

Namun, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, ingin kembali memastikan terkait kesiapan pemerintah dalam menghadapi perubahan harga minyak dunia.

Baca juga:

“Saya ingin memastikan lagi ini Pak, ini yang Bapak sampaikan terakhir ini sangat penting ini Pak untuk diketahui masyarakat bahwa exercise BBM di harga 80 (dolar AS/barel), 90 (dolar AS/barel), dan 100 (dolar AS/barel) pun negara sudah siap ya, Pak, ya?” tanya Misbakhun.

Karena kondisi ini tidak terlepas dari situasi konflik di Timur Tengah, sejak akhir Februari 2026 usai Israel dan AS menyerang Iran.

“Yang kemarin diumumkan dengan asumsi USD 100 jadi kita sudah siap kalau sampai sana,” kata Purbaya menjawab.

Misbakhun kembali menanyakan, apakah kesiapan itu sampai akhir tahun. Ditegaskan oleh Purbaya, bahwa betul sampai akhir tahun.

Diperjelas lagi oleh Misbakhun, apakah kesiapan itu juga adalah dengan langkah tidak menaikkan harga BBM, dan Purbaya mengamininya.

Misbakhun yang juga politisi Partai Golkar, itu mengatakan bahwa penjelasan Menkeu Purbaya ini perlu diketahui masyarakat.

“Nah ini yang harus masyarakat tahu Pak bahwa pemerintah siap untuk tidak menaikkan sampai di akhir tahun,” ucap Misbakhun.

Di mana pemerintah siap untuk menghadapi situasi global terkait minyak, dengan tidak menaikkan harga BBM hingga akhir tahun 2026.

“Kami siap tidak menaikkan sampai akhir tahun untuk BBM bersubsidi dengan asumsi harga minyak rata-rata USD 100 per barel sampa akhir tahun sudah dihitung,” kata Purbaya.

Penegasan tersebut disambut tepuk tangan. Tidak adanya kenaikan harga tersebut adalah untuk BBM bersubsidi. Sedangkan yang tidak bersubsidi, tidak dalam hitungan.

“Jadi yang bersubsidi sampai akhir tahun aman. Jadi masyarakat luar nggak usah ribut, nggak usah takut, kita sudah hitung,” katanya.

Bendahara Negara itu membantah isu jika fiskal akan habis dalam dua minggu. Purbaya mengatakan isu APBN akan habis dalam dua minggu beredar dari internal Kementerian Keuangan. Ia mengaku bingung mengapa bisa beredar isu seperti itu.

“Kalau BBM tidak naik, apakah APBN kita kuat sepanjang tahun? Karena ada orang yang bilang katanya uang saya tinggal dua minggu saja sudah habis,” kata Purbaya.

“Bahkan sumbernya bukan dari luar, malah dari Kementerian Keuangan sendiri yang menyebarkan isu-isu seperti itu. Saya baru tahu, padahal menterinya saya, jadi saya agak bingung,” tambahnya.

Padahal, kata Purbaya, pihaknya sudah menghitung berbagai kemungkinan gejolak harga minyak mentah dunia hingga US$ 100 per barel rata-rata sampai akhir tahun. Dengan harga tersebut, APBN dipastikan masih aman dengan defisit sekitar 2,9% terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Dengan exercise tertentu, anggaran bisa kita tekan masih di 2,92% dari PDB. Jadi sepanjang tahun ini dengan harga (minyak) rata-rata US$ 100, aman,” tegas Purbaya.

Di tengah kenaikan harga minyak dunia, Purbaya menegaskan BBM bersubsidi tidak akan naik sampai akhir 2026. Meski harga minyak rata-rata US$ 80-100 per barel, negara siap untuk menahan harganya.

“Kami siap tidak menaikkan sampai akhir tahun untuk BBM bersubsidi dengan asumsi harga minyak rata-rata US$ 100 per barel sampai akhir tahun sudah dihitung,” ucap Purbaya.

“Jadi (BBM) yang bersubsidi sampai akhir tahun aman. Masyarakat luar nggak usah ribut, nggak usah takut, kita sudah hitung,” tambahnya. (ira)

Share.
Exit mobile version