MataParlemen.idIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok lagi pada pembukaan perdagangan. IHSG berada di level 8.100 pagi ini.
Dikutip dari data RTI, Senin (2/2/2026), IHSG berada di level 8.132,36 pada pukul 09.05 WIB, turun 197 poin atau melemah 2,37%. IHSG dibuka pada level 8.306,18 poin.
Sebanyak 388 saham melemah, 180 saham menguat, dan 126 saham stagnan. Ada 3,95 miliar saham yang diperdagangkan dengan total turnover mencapai Rp 2,74 triliun dengan frekuensi perdagangan saat dibuka mencapai 312.135 kali.
IHSG terjun semakin dalam, hingga pukul 10:50 WIB IHSG sudah turun 5,07% ke level 7.904,52.
Sebanyak 731
saham turun, dan 159 saham tidak bergerak. Hanya 68 saham yang mengalami kenaikan.
Volume perdagangan mencapai 30,13 miliar lembar saham, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1,72 juta kali dengan nilai transaksi sejumlah Rp16,29 triliun.
IHSG sendiri dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Senin (2/2/2026). Indeks dibuka turun 0,28% ke level 8.306,16.
Namun 12 menit setelah pasar buka, IHSG melanjutkan pelemahan dan kehilangan 287 poin atau ambruk hingga 3,44% ke level 8.043,11.
Pelemahan IHSG hari ini terjadi setelah emiten tambang dan perdagangan emas kompak turun usai harga acuan global ambles signifikan akhir pekan lalu.
Nyaris seluruh saham emas RI terkoreksi mendekati level double digit penurunan pada awal perdagangan hari ini.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih bergerak volatil pada pekan pertama Februari 2026.
Tekanan datang dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang berlangsung bersamaan, mulai dari kembali terjadinya partial shutdown pemerintah Amerika Serikat hingga dinamika internal pasar keuangan Indonesia.
Kondisi ini membuat pergerakan IHSG dan rupiah masih rentan digoyang sentimen jangka pendek.
Berikut sejumlah data dan perkembangan terbaru yang bisa mempengaruhi pasar saham, rupiah, dan SBN
Hari ini, Senin (2/2/2026), S&P Global akan mengumumkan data PMI Manufaktur untuk Januari.
Sebagai catatan, aktivitas manufaktur Indonesia melandai pada Desember 2025 tetapi mencatatkan fase ekspansi selama lima bulan beruntun.
Data Purchasing Managers’ Index (PMI) menunjukkan PMI Indonesia berada di 51,2 pada Desember 2025 atau mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari 53,3 di Oktober.
PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.
Sektor manufaktur Indonesia mencatat ekspansi yang berkelanjutan pada Desember, dengan pertumbuhan ditopang oleh membaiknya pesanan baru. Perusahaan juga mencatat ekspansi yang berkelanjutan pada tingkat produksi tetapi laju pertumbuhannya melambat.
Pendorong utama ekspansi kondisi operasional adalah peningkatan pesanan baru yang terus berdatangan.
Badan Pusat Statistik (BP) akan mengumumkan dua rilis penting hari ini yakni inflasi Januari 2026 dan neraca dagang Desember serta sepanjang 2025.
Inflasi Indonesia diperkirakan melandai pada Januari 2026 seiring normalisasi harga sejumlah bahan pangan.
Konsensus pasar yang dihimpun dari 11 institusi memperkirakan inflasi bulanan berada di level rendah, yakni sekitar 0,06% (mtm), jauh lebih terkendali dibandingkan Desember 2025 yang mencatat inflasi 0,64% .
Selain inflasi, BPS juga akan mengumumkan data neraca dagang Desember 2025.
Pekan lalu, IHSG babak belur usai laporan MSCI soal kondisi pasar saham. Setelah itu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan OJK mundur ramai-ramai.
Pemerintah sudah menetapkan para pejabat sementara di bursa efek dan OJK. Pengelolaan bursa efek juga akan kembali diperbaiki. (ira)




