MataParlemen.id– Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menegaskan tradisi silaturahmi dan buka puasa bersama di bulan Ramadan harus ditempatkan sebagai sarana strategis dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Di tengah tantangan polarisasi sosial, fragmentasi digital, serta tekanan ekonomi global dan ketidakpastian global akibat meningkatnya eskalasi di Timur Tengah, momentum Ramadan mampu menghadirkan ruang silaturahmi yang hangat, cair, dan setara antar elemen bangsa.

Bamsoet mengingatkan perang Iran dan Israel yang dibackup Amerika Serikat, akan memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia dan beresiko menambah beban APBN serta mengganggu perekonomian nasional.

Untuk itu, Bamsoet mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperteguh persatuan dan kesatuan serta tidak terpengaruh terhadap berbagai provokasi yang memanfaatkan situasi untuk menyerang martabat Presiden Prabowo Subianto.

Baca juga:

“Ramadan mengajarkan pengendalian diri, empati, dan solidaritas. Nilai-nilai itu relevan dengan kehidupan berbangsa. Buka puasa bersama menghadirkan ruang pertemuan lintas latar belakang, lintas profesi, bahkan lintas pandangan politik dalam suasana yang hangat dan setara serta mampu membangun kesadaran bersama. Kita sebagai bangsa harus bersatu bahu membahu dalam menghadapi ancaman dan gangguan, baik dari dalam maupun dari luar,” ujar Bamsoet saat menggelar buka puasa bersama lintas organisasi dan komunitas di Rumah Pergerakan Patiunus Jakarta, Senin (2/3/2026) malam.

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menuturkan, Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia memiliki keunikan sosial yang sulit ditemukan di negara lain.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk Indonesia telah menembus lebih dari 284 juta jiwa pada tahun 2025, dengan mayoritas menjalankan ibadah Ramadan.

Situasi ini menciptakan efek sosial kolektif yang sangat besar, mulai dari meningkatnya aktivitas keagamaan, kegiatan sosial, hingga perputaran ekonomi berbasis UMKM yang melonjak signifikan selama bulan puasa.

“Kalau kebersamaan ini dikelola dengan visi kebangsaan yang jelas, Ramadan dapat menjadi titik temu antara spiritualitas dan tanggung jawab sosial.

Dari pertemuan saat berbuka, bisa lahir gagasan, kolaborasi, dan komitmen untuk menjaga keutuhan NKRI,” kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan, konsolidasi kebangsaan selama Ramadan harus diarahkan pada agenda yang lebih substansial.

Bamsoet mendorong agar kegiatan buka puasa bersama diisi dengan dialog produktif tentang pemberdayaan ekonomi rakyat, penguatan toleransi, serta literasi digital agar masyarakat semakin kebal terhadap provokasi yang memecah belah.

“Persatuan bangsa harus dirawat setiap hari. Ramadan memberi kita ruang refleksi dan aksi sekaligus. Jika energi kebersamaan ini dijaga, Indonesia akan semakin kuat menghadapi tantangan global maupun beragam dinamika dalam negeri,” pungkas Bamsoet. (ira)

Share.
Exit mobile version