MataParlemen.id-Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto mengapresiasi kinerja keuangan PT Inspeksi Sertifikasi dan Survey Indonesia (IDSurvey) sebagai Holding BUMN Jasa Survei yang dinilainya berada dalam kondisi sangat sehat.
Ia berharap pembentukan holding semakin memperkuat kinerja seluruh anak perusahaan sekaligus mendorong langkah-langkah strategis untuk memperluas bisnis ke depan. Termasuk kemungkinan menawarkan sahamnya ke public atau IPO.
“Struktur yang baru ini tentunya kami ucapkan selamat ya dan semoga dengan adanya holding IDSurvey masing-masing anak perusahaan atau subholding ini bisa bekerja lebih baik lagi. Saya kira kalau melihat dari laporan keuangannya memang ini IDSurvey sehat sekali, tidak ada hutang, indikator-indikatornya bagus semua,” ujar Adisatriya dikutip, Sabtu (27/6/2026).
Menurutnya, tantangan utama yang dihadapi IDSurvey saat ini bukan lagi persoalan keuangan, melainkan bagaimana perusahaan mampu melakukan ekspansi dan memperluas dominasi pasar di masa mendatang.
Baca juga:
Termasuk kemungkinan melakukan penawaran saham perdana atau IPO. Dijelaskannya, IPO tidak selalu dilakukan untuk memperoleh tambahan modal, tetapi juga dapat meningkatkan kredibilitas perusahaan di mata pasar global.
“Kalau bicara IPO kan bukan berarti karena IDSurvey perlu tambahan injeksi kas. Saya kira pasti berkecukupan. Cuma IPO kadang kita perlukan untuk menambah kredibilitas, apalagi ini di bidang pemastian industri yang perlu kredibilitas. Saya lihat pemain-pemain besar dunia semuanya juga sudah listing dan lain sebagainya. Jadi itu satu ide yang perlu menurut saya dipertimbangkan oleh Danantara dan juga IDSurvey terkait IPO ke depan,” paparnya.
Selain itu, Adisatrya meminta agar setiap anak perusahaan maupun subholding di lingkungan IDSurvey memiliki pembagian kompetensi yang jelas sehingga tidak terjadi tumpang tindih bisnis. Dengan demikian masing-masing sub holding atau anak perusahaan bisa fokus kepada kompetensinya dan meningkatkan bisnis di lini usahanya masing-masing.
Dari sisi pasar, ia menilai IDSurvey masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan daya saing, terutama dalam menghadapi dominasi perusahaan sertifikasi dan inspeksi swasta asing di Indonesia. Ia juga mendorong peningkatan penetrasi pasar swasta agar ketergantungan terhadap pelanggan BUMN dapat berkurang.
“Marketing-nya Pak Ari dan tim di sektor swasta mungkin juga harus ditingkatkan. Jadi rasio BUMN dan anak perusahaan yang menggunakan IDSurvey kita harapkan bisa naik, tetapi secara keseluruhan diversifikasinya juga lebih bagus sehingga tidak didominasi saja oleh perusahaan-perusahaan BUMN sebagai pelanggan dari ID Survey,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Adisatrya juga menekankan pentingnya penerapan standar internasional dalam sertifikasi tenaga kerja yang dilakukan IDSurvey. Menurutnya, kualitas sumber daya manusia Indonesia harus mampu bersaing di pasar global.
“Standarisasinya juga kita harapkan menggunakan standarisasi internasional. Jadi sudah ketahuan ini yang disertifikasi oleh IDSurvey, misalnya yang sangat diminati di luar itu kan nurses dari Indonesia, skill-nya itu karena orang Indonesia dianggap ramah dan hospitable, tetapi skill-nya tentu harus mendukung. Nah ini harus sesuai dengan standar-standar internasional,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia berharap IDSurvey dapat menjalankan peran sebagai “penjaga gawang” kualitas produk yang beredar di Indonesia, termasuk melindungi masyarakat dari produk-produk impor yang aspek keselamatannya masih diragukan. Pasalnya, sebagaimana diketahui pasar dalam negeri banyak dibanjiri oleh produk-produk China dan negara lain yang safety-nya juga masih dipertanyakan. (awn)




